Tel Aviv – Banyak yang meyakini bahwa konflik yang terjadi antara Israel dan Palestina turut dilatarbelakangi oleh sentimen agama. Akan tetapi, beberapa penelitian justru menyebutkan hal yang sebaliknya. Muslim dan Yahudi ternyata kerap terlihat berdampingan.

Rumor Tentara Muslim Dipaksa Gabung Militer Israel

Hal tersebut juga yang terjadi di kesatuan militer negeri zionis yang bernama Israel Defence Force. Sebagaimana yang dilansir dari laman Dailywire.com, tak sedikit anggota militer negara berbendera Bintang Daud tersebut yang merupakan Muslim.

Mereka merupakan generasi muda dari kelompok masyarakat Muslim yang telah menetap di wilayah Israel secara turun temurun. Mereka mengenyampingkan sentimen agama dan membela Israel sebagai tanah airnya.

“Saya adalah seorang Arab Saya juga seorang Muslim. Saya mencintai negara saya dan siap mati membelanya,” ujar Mohammad Kabiya, salah seorang Muslim di militer Israel.

Kabiya sendiri meruapakan seorang keturunan Arab Badui yang dikenal sebagai salah satu musuh bebuyutan kaum Yahudi sejak dahulu kala. Para tentara Muslim kerap diduga terpaksa masuk ke satuan tentara lantaran adanya program wajib militer bagi seluruh penduduk Israel, baik pria maupun wanita, di usia sekitar 20-an.

Akan tetapi, seperti Kabiya, Kolonel Wagdi Sarhan juga mengaku tulus membelas negaranya, meskipun ia adalah seorang Muslim. Bagi Kabiya dan Sarhan, serta para tentara Muslim Israel lainnya, konflik dengan Palestina bukanlah terkait dengan agama.

“Terkadang kami juga berempati dengan saudara Muslim di Palestina, namun kami lebih memilih untuk mengabdi kepada negara,” jelas Sarhan.

Mereka sendiri mengaku bertugas untuk menekan perlawanan masyarakat Palestina di Tepi Barat yang dikuasai sepihak oleh Israel sejak 1967 silam. Israel mengklaim Tepi Barat adalah bagian dari daerah yang telah dijanjikan oleh kitab Taurat sebagai tanah kebebasan.

“Palestina adalah sahabat kami, namun kami tidak bisa menuruti keinginan mereka untuk menduduki Tepi Barat,” tukas Sarhan yang telah mengabdi belasan tahun di militer Israel.

Muslim yang tergabung dalam Militer Israel sebenarnya baru bemunculan dalam beberapa tahun terakhir ini. Seperti dikutip dari laporan NBCnews.com, sebelumnya pemerintah Israel hanya menempatkan warga Muslim sebatas pada program wajib militer. Alasannya adalah karena tentara Muslim dikhawatirkan membelot dari tugas yang diperintahkan.

“Pemerintah akhirnya percaya bahwa kami tulus membela negara, dan kuota tentara Muslim terus bertambah dari tahun ke tahun,” ujar Ahmed Lakashi, salah seorang tentara beragama lainnya.

Meski demikian, peran tentara Muslim masih belum dimaksimalkan oleh militer Israel. Selain berjaga di Tepi Barat, tentara Muslim juga lebih sering ditempatkan jauh dari medan perang, seperti di bagian logistik dan kavaleri.

Hanya segelintir kecil tentara Muslim yang berhasil mencapai pangkat menengah dan ditugaskan di garda depan operasi-operasi militer Israel. Itupun dicapai tidak mudah, lantaran membutuhkan waktu yang sangat lama.

“Masih ada sedikit kecurigaan dari pemerintah terhadap kami, para tentara Muslim,” tukas Kabiya.

(Ikhsan Djuhandar – harianindo.com)