X
  • 6 days ago
Categories: NasionalRagam Berita

Selain Prabowo, Ini Sosok Yang Bisa Menjadi Penantang Berat Jokowi di Pilpres

Jakarta – Prediksi dan hasil survei terkait Pilpres 2019 sudah mulai marak menjadi bahan bacaan dan perbincangan publik belakangan ini. Apalagi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) telah memutuskan untuk mengusung kembali Joko Widodo (Jokowi) sebagai calon presiden.

Lantas siapa sosok yang akan menjadi lawan berat Jokowi nantinya?

Untuk diketahui, sebagai petahana, Jokowi telah mendapatkan dukungan dari sejumlah partai politik, yakni PDIP (19,4% kursi DPR), Golkar (16,2%), PPP (7%), NasDem (6,4%), dan Hanura (2,9%).

Sedangkan lima partai lainnya, yakni Gerindra (13% kursi DPR), Demokrat (10,9%), PKB (8,4%), PAN (8,6%), dan PKS (7,1%), hingga kini belum menentukan sikap karena masing-masing memiliki jagoan untuk dimajukan.

Gerindra memiliki Prabowo, Demokrat memiliki Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), PKB dengan Muhaimin Iskandar, PAN punya Zulkifli Hasan, sedangkan PKS yang punya Sohibul Iman, Salim Segaf Aljufrie hingga Anis Matta.

Terkait aturan Presidential Threshold sebesar 20 persen kursi di DPR, lima partai tersebut tidak dapat maju sendiri dan harus berkoalisi agar dapat mengajukan calon.

Gerindra dan PKS yang terlihat mesra di sejumlah Pilkada dan menang di Pilkada DKI 2017 lalu sepertinya akan mengulanginya pada Pilpres 2019 mendatang dengan mengusung Prabowo Subianto.

Menurut pendapat Wasekjen PAN Saleh Partaonan Daulay, Pilpres 2019 seharusnya tidak dikerucutkan pada pilihan Jokowi atau Prabowo saja, namun bisa mencari calon pemimpin alternatif di luar keduanya.

“PAN mengajak partai yang belum menentukan capres untuk duduk bersama merumuskan lagi calon pemimpin alternatif, capres dan cawapres alternatif yang bisa bertanding melawan Jokowi, PAN meyakini calon itu banyak,” kata Saleh, Selasa (26/2).

Saleh menginginkan ada calon alternatif selain Jokowi dan Prabowo. Ia mencontohkan Pilkada DKI Jakarta dimana Jokowi yang pada saat itu menjadi calon alternatif justru menang melawan Fauzi Bowo sebagai petahana. Demikian juga saat Anies Baswedan mampu mengalahkan pesaingnya, Ahok dan AHY, di Pilkada DKI 2017.

“Sudah ada (calon penantang), kalau penantang itu dia kan dapat (elektabilitas) 15 persen atau 20 sampai 25 persen sudah bagus. Nanti begitu dia kuat, naik. Coba lihat Anies sama Sandi langsung kan, dulu Jokowi kalahkan Foke begitu. Menurut saya caranya, jangan lihat orangnya dulu,” jelas Wakil Ketua Komisi IX DPR ini.

Pendapat terpisah juga disampaikan Pengamat Politik dari Universitas Padjajaran, Firman Manan. Firman menjelaskan, koalisi penantang Jokowi akan lebih cair bila Gerindra memutuskan untuk tidak mengusung Prabowo Subianto.

Pilpres 2019 akan menjadi menarik bila muncul capres alternatif meski hingga saat ini nama Prabowo Subianto masih menjadi lawan terberat Jokowi menurut banyak hasil survei.

“Jika Prabowo maju ada dua problem psikologis yang harus dihadapi partai kubu oposisi. Pertama Prabowo sudah dua kali kalah dalam pilpres. Ini bisa mengganggu psikologis pemilih, sosok sudah dua kali bertanding dalam Pilpres, ini bisa jadi problem. Kedua persoalan logistik, kita belum tahu persiapan Prabowo dalam konteks logistik. Di beberapa momen terakhir, Pak Prabowo mengeluh soal logistik,” jelas Firman.

Menurut Firman, sosok Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan bisa menjadi capres alternatif selain Jokowi dan Prabowo, karena saat ini media sedang menyorotnya.

“Hari ini muncul Anies Baswedan, karena calon alternatif itu adalah bagaimanapun dia harus terekspos media, itu penting. Hari ini kita lihat Anies bahkan dalam beberapa momen lebih terekspos media dibanding Prabowo semenjak isu Pilkada DKI, terlepas pemberitaan itu bernada positif dan negatif,” kata Firman.

“Dia memang berada dalam posisi strategis untuk mendapat ekspos media. Ini juga masalah buat Prabowo, sampai saat ini seakan stagnan karena memang salah satu problemnya kelihatan belum bisa dapat momentum terekspos oleh media sehingga muncul di publik kalau Pak Anies sebagai Gubernur DKI dia berada pada wilayah itu,” tambahnya.

Sedangkan nama lain seperti AHY, Muhaimin Iskandar, Zulkifli Hasan, atau Sohibul Iman, dinilai belum bisa mengalahkan elektabilitas Anies.

“Kalau lihat nama-nama (penantang) itu masih berat untuk bisa lawan Jokowi jadi capres. Mereka itu kemungkinan levelnya cawapres. Kaya Cak Imin figur-figur di PKS, AHY walaupun popularitas tinggi, tapi kan kapasitas personal, track record misalnya AHY bagaimana pengalaman kepemimpinan yang kurang, apalagi politisi sipil, kalau untuk cawapres nama-nama itu berpeluang, tapi untuk diusung capres apalagi melawan Jokowi sebagai petahana berat nama-nama itu,” pungkas Firman.
(samsul arifin – www.harianindo.com)

Samuel Philip Kawuwung :