X
  • 6 days ago
Categories: NasionalRagam Berita

Dikutip Prabowo Dalam Pidatonya, Ini Isi Novel Ghost Fleet

Jakarta – Masyarakat diramaikan dengan pernyataan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dalam pidatonya di acara Konferensi Nasional dan Temu Kader Partai Gerindra di Sentul, Bogor, Rabu (18/10/2017).

Cuplikan pidato Prabowo ini lantas menjadi viral setelah diunggah oleh akun Facebook Partai Gerindra pada Minggu (18/3/2018).

“Di negara lain mereka sudah bikin kajian-kajian, di mana Republik Indonesia sudah dinyatakan tidak ada lagi tahun 2030, Bung! Mereka ramalkan kita ini bubar,” kata Prabowo saat itu.

Sebelumnya, Prabowo juga pernah menyampaikan hal yang sama saat menjadi pembicara bedah buku ‘Nasionalisme Sosialisme dan Pragmatisme : Pemikiran Ekonomi Politik Soemitro Djojohadikusumo’ di Auditorium Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Depok pada 18 September 2017 lalu. Saat itu ia membawa sebuah novel berjudul ‘Ghost Fleet’ yang ia beli dari luar negeri.

“The Ghost Fleet ini sebuah novel, tapi ditulis oleh dua ahli strategi dari intelijen Amerika, menggambarkan sebuah skenario perang antara China dan Amerika tahun 2030. Yang menarik bagi kita dari sini hanya satu, mereka meramalkan kalau 2030 Republik Indonesia sudah tidak akan ada lagi,” kata Prabowo.

Lantas bagaimana sebenarnya isi cerita dari novel Ghost Fleet ini?

Ghost Fleet bercerita soal konflik global Perang Dunia Ketiga yang melibatkan Amerika Serikat melawan China dan Rusia. Diceritakan, China unggul dari AS karena mampu melumpuhkan sistem satelit dan Global Positioning System milik Amerika Serikat.
China juga dituliskan telah menguasai Hawaii dan mendirikan negara administratif di sana, setelah menghancurkan seluruh armada AS di kawasan Pasifik.

Dalam sisa perlawanannya, seorang tokoh fiktif bernama Komandan Jamie Simmons kemudian menjadi tokoh kunci perlawanan AS dengan kapal perang USS Coronado. Kapal ini merupakan kapal tua yang tidak memiliki sistem canggih sehingga tidak bisa dilumpuhkan oleh para hacker China dan Rusia.

Dari sinilah kemudian muncul istilah ‘Ghost Fleet’, atau ‘Armada Hantu’, mengacu pada armada cadangan Angkatan Laut Amerika Serikat.

Wilayah Indonesia sendiri bagi AS cukup penting karena menjadi titik perjalanan Kapal USS Coronado untuk melintasi Selat Malaka.

Namum dalam novel ini, Indonesia disebutkan sudah bukan negara yang berdaulat lagi, dan disebut sebagai ‘bekas Negara Indonesia’ karena konflik Timor kedua.

“Lebih dari separuh pelayaran dunia melewati jalur ini, yang mengakibatkan setiap titiknya berbahaya dan menjadi kekhawatiran global,” kata Komandan Simmons sambil menunjuk peta wilayah Indonesia.

“Sekitar 600 mil jalur antara bekas Negara Indonesia dan Malaysia, kurang dari 2 mil lebarnya pada jarak tersempit, hampir memisahkan masyarakat otoriter Malaysia dari kekacauan, Indonesia lenyap setelah Perang Timor kedua,” sebut sang penulis, PW Singer dan August Cole.

Sedangkan bagi China, wilayah bekas Indonesia menjadi penting karena menyimpan banyak sumber energi.

“Kita masih harus menghalau mereka (Amerika Serikat) dalam kepentingan kita di Transyordan, Venezuela, Sudan, Emirat dan bekas Negara Indonesia,” ungkap Wakil Laksamana Wang Xiaoqian.

Kedua penulis sendiri menegaskan pada catatannya di dalam novel tersebut bahwa Ghost Fleet ini hanyalah sebuah karya fiksi, dan bukan sebuah prediksi.

“Buku ini terinspirasi dari tren dan teknologi dunia saat ini. Meski pada akhirnya, buku ini merupakan sebuah karya fiksi, bukan prediksi,” tulis P.W Singer dan August Cole di halaman V pada novel tersebut.
(samsul arifin – www.harianindo.com)

Samuel Philip Kawuwung :