Jakarta ā€“ Menanggapi pro kontra warga negara Indonesia yang pergi ke Suriah dan bergabung dengan ISIS, Ketua Bidang Hizbah Front Pembela Islam Awit Masyhuri mengatakan bahwa hal itu merupakan hak pribadi dan tidak perlu ditanggapi dengan serius.

FPI Anggap Bergabung Dengan ISIS Adalah Hak Individu

“Yang mau gabung ISIS itu hak individu dia. Selama pemerintah Indonesia tidak dzalim sama rakyatnya, InsyaAllah tidak ada itu ISIS di Indonesia,” kata Awit, 19 Maret 2018 lalu.

Menurutnya, faktor ideologilah yang membuat seseorang memilih bergabung dengan ISIS dan berjihad di sana.

“Ini saya lihat lebih ke ideologi yang dominan,” ujar Awit.

Saat ditanya apakah dirinya juga mendukung ISIS, Awit mengaku belum menemukan titik kebenaran dalam pesan jihadyang dilakukan ISIS.

“Saya belum menyatakan benar atau tidak, saya belum temukan benang merahnya ISIS ini apa,” ujarnya.

Sedangkan menanggapi wacana untuk mencabut status kewarganegaraan bagi siapa saja WNI yang bergabung dengan ISIS, Awit menilai hal itu terlalu berlebihan.

“Pemerintah jangan sombong cabut kewarganegaraan, dekati ulama atau habib dan lainnya untuk konsultasi. Yang menolak ISIS jangan meremehkan mereka yang masuk ISIS, nanti mereka malah bereaksi keras,” katanya.

Seperti diketahui sebelumnya, mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Marciano Norman mengusulkan agar WNI yang mendukung ISIS dicabut saja kewarganegaraannya.

“Karena ada beberapa negara lain yang sudah mengeluarkan aturan itu, bagi mereka yang sudah jelas-jelas keluar, mereka dicabut kewarganegaraannya. Bagi mereka yang sudah jelas-jelas bergabung dengan ISIS, pulang juga ada permasalahan hukum yang dia tindak lanjuti,” ujar Marciano di Kantor Presiden, Istana Kepresidenan, Jakarta, pada 18 Maret 2018 lalu.

“Saya rasa ke Kementerian Hukum dan HAM nanti sebaiknya ini ditanyakan,” imbuhnya.
(samsul arifin ā€“ harianindo.com)