Jakarta – Revolusi mental yang sering digaungkan oleh Presiden Joko Widodo, baru-baru ini mendapat kritikan dari Ketua Komando Satuan Tugas Bersama (Kosgama) Partai Demokrat, Agus Yudhoyono atau AHY. Kritikan dari AHY tersebut disampaikannya dalam orasi Jakarta Convention Center, pada Sabtu (9/6/2018) kemarin.

Revolusi Mental Jokowi Mendapat Kritikan Dari AHY

Terkait kritikan tersebut, Wakil Sekretaris Jenderal DPP Demokrat, Putu Supadma Rudana memberikan tanggapan. Menurutnya, kritikan AHY itu lebih mempertanyakan soal eksistensi dari revolusi mental yang semakin lama semakin meredup.

“AHY pertanyakan revolusi mental yang gencar disuarakan pada Pilpres 2014. Namun, tak berjalan baik seiring gencarnya pembangunan infrastruktur,” kata Putu dalam keterangannya, Minggu, (10/6/2018).

Putu menilai, masih banyak persoalan di Indonesia yang belum diselesaikan, seperti angka pengangguran dan kemiskinan yang tinggi. Menurutnya, pemerintahan Presiden Jokowi terlalu fokus dalam infrastruktur, namun justru lapangan pekerjaan masih sulit untuk tenaga lokalnya.

“Sopir tenaga kerja asing digaji Rp15 juta sedangkan sopir lokal kita hanya dapat Rp5 juta, di mana rasa keadilan itu? Kalau begini apanya direvolusi? Mendapatkan upah di negeri sendiri saja lebih rendah dari TKA. Hasil ini mengacu pada investigasi Ombudsman RI pada tahun 2017,” ujar Putu yang juga Deputi Kogasma Demokrat tersebut.

Lantas, ia menyindir kebijakan pemerintah terkait pemberian THR serta gaji ke-13 bagi para PNS, anggota TNI dan Polri. Pemberian ini termasuk PNS atau anggota TNI/Polri yang sudah pensiun. Kebijakan tersebut di sisi lain layak untuk diapresiasi. Namun, mestinya ada kebijakan yang juga memprioritaskan masyarakat yang tak mendapatkan THR.

“Bagaimana masyarakat yang tidak mendapatkan THR? Mereka pasti terkena dampak kenaikan harga bahan-bahan pokok yang biasanya terjadi, ini miris sekali. Ini sangat rawan hampir 40 persen populasi Indonesia berada di garis kemiskinan,” jelas Putu.

Kemudian, ia menyebut selama safari politik di berbagai daerah, AHY sudah menyerap aspirasi masyarakat. Bagi dia dan elite Demokrat lain, figur AHY merupakan calon pemimpin muda yang sangat bersemangat membawa perubahan bangsa.

“Sudah 22 provinsi di Indonesia dan ratusan kabupaten kota dikunjungi AHY hanya untuk berdialog dan menyerap aspirasi masyarakat. Sudah saatnya kita berpolitik mendengarkan suara rakyat bukan suara untuk membagi-bagi kekuasaan,” tutur Anggota DPR tersebut.

Sebelumnya, AHY dalam orasinya menyampaikan kritikan jargon revolusi mental yang sering digaungkan Jokowi sejak Pilpres 2014. Menurut dia, revolusi mental tenggelam seiring pembangunan infrastruktur yang giat diterapkan Jokowi.

“Apa kabar revolusi mental? Kita ingat revolusi mental adalah konsep pembangunan manusia Indonesia yang gencar saat Pilpres 2014,” kata Agus Yudhoyono melalui orasinya bertema “Dengarkan Suara Rakyat” di Jakarta Convention Center yang disiarkan oleh tvOne, Sabtu 9 Juni 2018.

(Ikhsan Djuhandar – harianindo.com)