Ankara – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengkritik penggunaan sanksi ekonomi yang diberlakukan beberapa negara kepada Turki. Erdogan menyayangkan penggunaan sanksi ekonomi tersebut sebagai ‘senjata’.

Erdogan Layangkan Kritik Terkait Penggunaan Sanksi Ekonomi

Erdogan

“Tak satu pun dari kita dapat tetap diam terhadap pembatalan perjanjian komersial secara sewenang-wenang. Penyebaran prevalensi, proteksionisme, dan penggunaan sanksi ekonomi sebagai senjata,” kata Erdogan sebagaimana diberitakan AFP pada Rabu (26/9/2018).

Ia menjelaskan, hubungan antara Washington dan Ankara mencapai titik terendah pada Agustus 2018. Tepatnya, ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan tarif baru untuk baja dan aluminium Turki. Tarif itu dikeluarkan sebagai tanggapan atas penahanan seorang pendeta Amerika di Turki.

Lira Turki pun terpukul di pasar mata uang. Hal ini memicu kekhawatiran dan krisis ekonomi besar-besaran di Turki. “Tidak ada yang ingin dunia mengalami perpecahan ekonomi baru,” kata Erdogan.

Baca juga: Mahathir Mohamad Bakal Memperkuat Sektor Administrasi Negara

Erdogan tidak menuduh Amerika Serikat secara langsung, tetapi menunjuk ke negara-negara yang terus berusaha menciptakan kekacauan. “Sangat mudah menciptakan kekacauan tetapi sulit untuk menegakkan kembali ketertiban, dan hari ini beberapa negara terus berusaha menciptakan kekacauan,” ucap dia.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo berharap Turki segera membebaskan pendeta Amerika Serikat Andrew Brunson. Brunsosn telah ditahan selama hampir dua tahun karena diduga terlibat teror. (Tita Yanuantari – harianindo.com)