Surabaya – Penyerangan Polsek Wonokromo pada Sabtu (17/08/2019) lalu menyimpan sebuah kesedihan. Keluarga Imam Musthofa, pelaku penyerangan, tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa pria tersebut terindikasi terpapar radikalisme ISIS. Padahal, selama ini Imam dikenal sebagai sosok pendiam dan pemalu.

Ibrahim, paman Imam, menuturkan bahwa keponakannya tersebut tidak tampak berubah. Meskipun ia memperhatikan bahwa istri Imam mengubah penampilannya menjadi bercadar. Namun Ibrahim tidak berburuk sangka.

“Kalau istri itu ya setahun terakhir ini ya pakai cadar, tapi itu kalau pendapat saya lebih bagus,” tutur Ibrahim.

Baca Juga: Kapolri Menyebut Penyerang Polsek Wonokromo Terpengaruh Kajian Dari Internet

Sepengetahuan Ibrahim, Imam bekerja sebagai penjual kerupuk. Sebelum itu, ia juga diketahui pernah menjadi juru parkir di Surabaya. Sebelum berpindah ke Surabaya, ia pernah menjadi juru parkir juga dan satpam di Sumenep.

Semenjak bermukim di Surabaya, Imam terhitung jarang mengunjungi keluarganya di Sumenep. Bahkan, pernah suatu hari ia hanya pulang sebentar kemudian kembali ke Surabaya.

“Bahkan pernah cuma satu jam kemudian berangkat lagi ke Surabaya,” ungkap Ibrahim. (Elhas-harianindo.com)