Beijing – Seluruh bursa saham utama kawasan Asia kompak tumbang pada perdagangan pertama di pekan ini, Senin (26/08/2019).

Data perdagangan mencatat, indeks Nikkei ambruk 2,17%, indeks Shanghai jatuh 1,17%, indeks Hang Seng merosot 1,91%, indeks Straits Times melemah 1,45%, dan indeks Kospi berkurang 1,64%.

Eskalasi perang dagang AS-China menjelang akhir pekan terbukti sukses dalam mempengaruhi aksi jual dengan tekanan yang begitu besar di bursa saham Benua Kuning.

Eskalasi pertama dari pengumuman China bahwa pihaknya akan melakukan pembebanan terhadap bea masuk bagi produk impor asal AS senilai US$ 75 miliar. Pembebanan bea masuk tersebut akan mulai berlaku efektif dalam dua waktu, yakni 1 September dan 15 Desember. Bea masuk yang dikenakan China berkisar antara 5%-10%.

Lebih lanjut, China juga mengungkapkan bahwa pengenaan bea masuk senilai 25% terhadap mobil asal pabrikan AS, serta bea masuk sebesar 5% atas komponen mobil, berlaku efektif pada 15 Desember. Untuk diketahui, China sebelumnya telah berhenti membebankan bea masuk tersebut pada bulan April, sebelum kini kembali menerbitkan kebijakan tersebut.

“Sebagai respons terhadap tindakan AS, China terpaksa mengambil langkah balasan,” tulis pernyataan resmi pemerintah China

Eskalasi berikutnya datang dari langkah AS yang menanggapi kebijakan bea masuk balasan dari China dengan bea masuk versinya sendiri. Melalui cuitan di Twitter, Trump menngungkapkan bahwa per tanggal 1 Oktober, pihaknya akan menaikkan bea masuk bagi US$ 250 miliar produk impor asal China, dari yang saat ini sebesar 25% menjadi 30%.

Sementara itu, bea masuk bagi produk impor asal China lainnya senilai US$ 300 miliar yang akan mulai diberlakukan pada 1 September (ada beberapa produk yang pengenaan bea masuknya diundur hingga 15 Desember), akan dinaikkan menjadi 15% dari rencana sebelumnya yang hanya sebesar 10%.

“…Yang menyedihkan, pemerintahan-pemerintahan terdahulu telah membiarkan China lolos dari praktek perdagangan yang curang dan tidak berimbang, yang mana itu telah menjadi beban yang sangat berat yang harus ditanggung oleh masyarakat AS. Sebagai seorang Presiden, saya tak lagi bisa mengizinkan hal ini terjadi!….” cuit Trump melalui akun @realDonaldTrump.

Perang dagang diantaran dua negara dengan ekonomi raksasa mengenakan bea masuk untuk produk impor dari masing-masing negara, memang aktivitas konsumsi dan investasi akan terdampak yang pada akhirnya membuat aktivitas perdagangan dunia menjadi turun.

Pada tahun 2017, International Monetary Fund (IMF) mencatat pertumbuhan ekonomi global melonjak menjadi 3,789%, dari yang sebelumnya 3,372% pada tahun 2016, sekaligus menandai laju pertumbuhan tertinggi sejak tahun 2011.

Pada tahun 2018, pertumbuhan ekonomi global melandai menjadi 3,598%. Untuk tahun 2019, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global akan kembali melandai menjadi 3,328%. Jika terealisasi, maka akan menandai laju pertumbuhan ekonomi terburuk sejak tahun 2009 kala perekonomian global justru terkontraksi sebesar 0,107% akibat krisis keuangan global.

Di sisi lain, tekanan yang begitu besar yang menerpa bursa saham Hong Kong juga diprakarsai oleh aksi demonstrasi yang tak berkesudahan. (Hr-harianindo.com)