Beijing – Perang dagang yang dikumandangkan oleh Amerika Serikat terhadap Republik Rakyat Tiongkok terus berlanjut. Kondisi tersebut mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara mengalami perlambatan. Namun kini, perusahaan besar asal Amerika Serikat terkena getahnya.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada pekan lalu menyuruh perusahaan AS yang ingin menanamkan investasi di Tiongkok untuk segera membatalkan rencana tersebut jika tak ingin menjadi korban dari perang dagang.

Tak hanya itu, Trump juga dengan jumawa mengatakan bahwa AS tidak membutuhkan Tiongkok sebagai mitra dagang. Pernyataan itu ia sampaikan melalui akun Twitter pribadinya.

“Kita tidak membutuhkan Tiongkok. Dan, terus terang, akan jauh lebih baik tanpa mereka,” cuit Trump.

Pernyataan sesumbar Trump tersebut jelas berdampak pada sejumlah perusahaan AS yang telah beroperasi di Tiongkok. Mereka khawatir dengan kelangsungan bisnis mereka setelah Presiden AS berkata demikian. Starbucks adalah salah satu pewaralaba yang merasa terdampak dan takut diboikot.

“Saya sangat optimis dengan pasar di Tiongkok untuk jangka panjang. Tapi kami khawatir tak lagi dapat mempercepat ekspansi dan membangun toko baru di Tiongkok (karena perang dagang, Red),” kata CEO Starbucks, Kevin Johnson, pada Selasa (27/08/2019).

Selain Starbucks, ritel makanan cepat saji KFC dan McDonald’s juga mengutarakan keresahan serupa. Sebab, dalam skala global angka pemasaran mereka jauh lebih tinggi di Tiongkok daripada di AS.

Hal tersebut juga diamini oleh Direktur senior urusan pemerintahan di Dewan Bisnis AS-Tiongkok, Anna Ashton. Ia mengatakan bahwa sejumlah perusahaan AS di Tiongkok mendapat keuntungan yang jauh lebih tinggi. Ashton pun berpandangan bahwa kebijakan perang dagang Trump akan sangat merugikan perusahaan AS.

“Sebagian besar perusahaan kami secara konsisten melaporkan setiap tahun bahwa pasar Tiongkok menguntungkan mereka. Dan, tidak hanya menguntungkan tetapi lebih menguntungkan daripada operasi mereka secara keseluruhan,” ungkap Ashton. (Elhas-harianindo.com)