Penajam Paser Utara – Rencana pemindahan ibu kota baru membuat warga adat Dayak Paser di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) merasa khawatir. Bagaimana tidak, lahan yang mereka tinggali secara turun-temurun akan tergusur ibu kota baru yang ditargetkan menampung 1,5 juta orang.

Terdapat empat desa komunitas adat Dayak Paser di wilayah yang DIPILIH Presiden Joko Widodo menjadi pusat pemerintahan baru.

Dalam lokasi tersebut,terdapat pula 13 wilayah adat di sekitar ibu kota baru yang akan berpusat di Kecamatan Sepaku, PPU; dan Kecamatan Samboja, Kutai Kertanegara, merujuk pemetaan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara.

Di sisi lain, pemerintah menggelak adanya penggusuran wilayah adat. Pemerintah akan mendahulukan kepentingan warga Dayak Paser dalam rencana besar pemindahan ibu kota.

Sabukdin, selaku warga setempat, tak bergairah saat membincangkan wacana ibu kota baru. Kepala Adat Paser di Sepaku ini mengaku terlanjur memendam antipati pada beragam program bertajuk pembangunan dan perekonomian.

Sabukdin menilai bahwa tak akan berbeda dengan alih fungsi hutan demi perkebunan kelapa sawit dan pengolahan kayu.

“Saya waswas kalau ibu kota benar dipindah ke sini, kecuali pemerintah menjamin tatanan adat, situs dan hak-hak kami tidak punah,” ujar Sabukdin

“Kami ingin daerah kami ramai, tapi bukan berarti kami menderita, hanya menonton.”

“Pendatang sudah hidup di tanah kami, kami tidak menikmati kemakmuran, tetap melarat dan bisa lebih melarat kalau ibu kota ada di sini,” tuturnya.(NRY-harianindo.com)