Jakarta – Dampak yang ditimbulkan dari perang dagang antara Amerika Serikat dengan Tiongkok terasa sangat signifikan bagi para pelaku bisnis tekstil. Pasalnya, sejumlah pabrik tekstil dinyatakan bangkrut akibat kebijakan yang dipantik dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Hal tersebut diungkapkan oleh Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API). Adanya perang dagang membuat Tiongkok kemudian membanjiri pasaran Indonesia dengan tekstil impor yang memiliki harga yang lebih kompetitif. Hal tersebut mengakibatkan sembilan pabrik tekstil dan produk tekstil (TPT) menyatakan gulung tikar.

Ketua API, Ade Sudrajat lebih lanjut mengatakan bahwa para pelaku usaha TPT yang semula berperan sebagai produsen kini mulai beralih menjadi importir TPT dari Tiongkok. Keputusan tersebut mengakibatkan jumlah karyawan yang berkurang.

“Kalau importir hanya butuh paling 10 orang, kalau produksi membutuhkan mungkin 600-1.000 tenaga kerja,” ungkap Ade pada Selasa (10/09/2019).

Tak hanya itu, Ade mengungkapkan bahwa kesulitan lain yang menghadang para pelaku industri tekstil adalah bea masuk industri TPT yang tak seimbang. Industri hulu mendapat bea masuk lebih mahal daripada industri hilir.

Ia pun mencontohkan adanya bea masuk sebesar 5 persen dan bea masuk anti dumping dengan kisaran 9-15 persen hanya untuk produk serat dan benang filamen. Tak seperti industri hulu yang menanggung 14-20 persen bea masuk, industri hilir yang mendapat garmen hanya dikenakan bea masuk sebesar 0 persen. Hal tersebut yang menyebabkan banyak pelaku industri TPT lebih memilih menjadi importir barang setengah jadi.

Sebagai solusi, Ade mengatakan bahwa pemerintah perlu menerapkan kebijakan tameng/safeguard sementara dengan cara menyeimbangkan bea masuk. Untuk produk garmen, seharusnya dikenakan 15-18 persen. Sementara bea masuk fiber 2,5 persen, benang 5-6 persen, dan kain 7 persen.

Kebijakan tameng sementara dilangsungkan selama 200 hari juga dibarengi dengan investigasi mengenai kondisi industri TPT oleh pemerintah. Barulah kemudian pemerintah melakukan tindakan untuk jangka berikutnya.

“Jangan sampai dokternya datang ketika pasien sudah mati,” kata Ade. (Elhas-harianindo.com)