Jakarta- Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri berhasil membekuk dua orang mahasiswa berinisial YA (24) dan RF (23), yang menjalankan aksi untuk membobol salah satu bank BUMN di Palembang, Sumatera Selatan. Mereka melakukan aksi dengan menggunakan modus transaksi fiktif melalui e-commerce.

Modus yang dilakukan oleh para tersangka yaitu melakukan top up pulsa, transfer, atau pembelian di aplikasi e-commerce KUDO, dengan menggunakan virtual account sebuah bank.

“Namun saldo yang ada dalam akun KUDO tersangka tidak berkurang atau tidak terpotong. Sementara dalam virtual account bank tercatat bahwa top up dan transfer tersebut sukses atau berhasil,” jelas Kanit I Subdit I Siber Kompol Ronald Sipayung di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (10/09/2019).

Berdasarakn pada hasil audit internal, bank BUMN yang tidak disebutkan pihak kepolisian tersebut mengalami kerugian sekitar Rp 1,3 miliar.

“Dari kedua tersangka ini yang sudah mereka dapat adalah sekitar 1,3 miliar dari bank BUMN,” ujarnya.

Kedua pelaku mengaku bahwa dapat mengetahui cara tersebut berdasarkan belajar secara otodidak dan sudah berhasil menjalankan aksinya hingga dua kali.

“Keterangan dari kedua tersangka ini mereka belajar atau tahu melakukan perbuatan ini adalah berdasarkan pembelajaran otodidak, jadi mereka mencoba, mencoba, mencoba, ternyata berhasil dan inilah perbuatan yang sudah beberapa kali terjadi dan sudah berulang,” papar Ronald.

Dari para tersangka polisi dapat mengamankan 4 buah handphone, seperangkat perhiasan emas, 2 buah jam tangan mewah, 2 buah laptop, 1 unit mobil Toyota Calya yang diajadikan barang bukti untuk pelaku.

Atas tindakannya tersebut, kedua tersangka dijerat Pasal 28 ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan atau Pasal 378 serta Pasal 372 KUHP dan atau Pasal 362 KUHP, dengan pidana penjara paling lama 6 tahun serta denda paling banyak Rp 1 miliar.(Hr-harianindo.com)