Makassar – Tindakan yang dilakukan seorang polisi memasuki masjid dengan masih menggunakan alas kaki saat mengejar mahasiswa dalam aksi demonstrasi di Kota Makassar pada Selasa (24/09) memasuki babak yang baru. Status salah seorang personel Polda Sulsel sudah dimasukan ke dalam sidang Propam dan 2 lagi masih menjalani pemeriksaan.

Tindakan yang dilakukan oknum polisi tersebut terekam video salah seorang mahasiswa dan beredar luas di media sosial hingga viral. Ada dua video yang beredar, berdurasi 7 detik dan 22 detik. Dua video tersebut memperlihatkan beberapa polisi membawa tongkat, tameng, mengenakan helm, dan bersepatu lengkap mengejar salah seorang mahasiswa dan memasuki area dalam masjid dengan masih menggunakan alas kaki.

Menurut imam Masjid Syuhada 45 Rusman, kejadian tersebut terjadi pada pukul 13.00-14.00 Wita, Selasa (24/09). Dia menjelaskan bahwa saat itu dirinya sedang berada dalam salah satu ruangan di masjid dan terdengar teriakan dari para mahasiswi.

“Selesai salat berjemaah itu saya ganti pakaian di ruangan saya. Lalu cukup lama kemudian saya dengar kepanikan jadi saya keluar. Mahasiswi itu pada minta perlindungan kepada saya jadi saya keluar temui satpam,” ujar Rusman, Rabu (25/09).

Kini kasus tersebut secara perlahan mulai terkuak. Propam Polda Sulsel melakukan pemeriksaan terhadap dua personel yang masuk masjid tanap membuka sepatu mereka saat terjadi kericuhan dalam aksi demonstrasi di depan kantor DPRD Sulsel.

“Anggota yang menggunakan sepatu masuk masjid, kita sudah periksa 2 orang dan 1 naik sidang,” jelas Kabid Propam Polda Sulsel Kombes Hotman C Sirait, saat ditemui wartawan, Selasa (01/10/2019).

Menurut Hotman, penanganan kasus tersebut harus dilakukan secara komprehensif dengan tetap mempertimbangkan penjelasan dari polisi yang bersangkutan.

“Kemudian dari bersangkutan juga sudah minta maaf, siap menanggung risiko, saat ini dalam pengamanan, yang satu sudah disidang dan sudah ditaruh di tempat khusus,” ungkapnya.

Peristiwa tersebut memantik kecaman dari berbagai pihak. MUI Kota Makassar turut memberikan tanggapan terkait dengan peristiwa tersebut. Menurut Ketua MUI Makassar H Baharuddin, tindakan polisi tersebut dapat dikatakan merendahkan tempat suci.

“Yang jelas, itu tidak boleh. Itu namanya merendahkan tempat suci,” kata Baharuddin.

Kecaman juga datang Ketua DPRD Sulsel Ina Kartika Sari. Menurutnya, aksi polisi itu tak etis untuk dilakukan. Politikus Golkar itu mengatakan bahwa aksi polisi bersepatu tidak dibenarkan kendati dalam keadaan terdesak karena mengejar mahasiswa yang masuk masjid.

“Kita juga ini mengecam itu ya, mengecam itu, apalagi ini kan rumah ibadah, tidak pantas itu dilakukan,” tutur Ina. (Hr-harianindo.com)