Malang – Kericuhan yang terjadi baru-baru ini di Wamena pada Senin (23/09) menyisakan duka mendalam bagi warga perantau yang menjadi korban keganasan para pelaku kerusuhan. Ada yang kehilangan harta benda, rumah, bahkan nyawa.

Seperti halnya yang terjadi pada pasangan suami istri Rais Nasir (55) dan Rohmah (45). Keduanya merupakan pengungsi Wamena asal Sampang, Madura.

Bersama empat anaknya, mereka sudah 12 tahun tinggal di Wamena. Di sana mereka sehari-hari berjualan daging ayam. Saat kerusuhan terjadi, Rohman bersama seluruh anggota keluarganya berada di dalam rumah.

Tiba-tiba segerombolan orang tak tahu dari mana asalnya dengan membawa sebilah parang dan bahan bakar minyak (BBM). Secara brutal mereka langsung melukai setiap orang yang ditemuinya. Sekelompok orang tak dikenal tersebut juga menyelonong masuk ke dalam rumah dan menyiramkan BBM sehingga menyulutkan api dan terjadilah kebakaran pada seisi rumah tersebut.

“Saat itu, kami semua ada di dalam rumah. Ketika mereka sampai di depan, kami menerobos pagar belakang rumah untuk melarikan diri. Tak lama, saya melihat rumah saya dibakar,” tutur Rohmah ketika tiba di Lanud Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, Kamis (03/10/2019).

Setelah berhasil lolos dari ancaman kematian, satu keluarga tersebut bersama dengan puluhan warga lainnya menyembunyikan diri di dalam gereja. “Kami nekat menyeberangi sungai, kemudian menuju gereja. Ada banyak orang di sana, kami sembunyi di situ (gereja),” papar ibu empat anak ini.

Selama beberapa hari Rohmah bersama keluarganya masih menempati gereja tersebut sebagai tempat tinggal. Sebelum akhirnya kodim melakukan evakuasi ke beberapa tempat.

“Kami baru dua hari ini keluar dari kodim, dan dievakuasi ke Jayapura. Dan kemudian hari ini, ikut terbang ke sini (Lanud Abdulrachman Saleh),” ungkapnya.

Jefri Simatupang, perantau lain yang ikut satu rombongan dengan Rohmah mengaku merasakan trauma berat terkait kejadian kerusuhan yang terjadi di Wamena. Pria asal Medan tersebut tak ingin kembali lagi ke Wamena.

“Kami ingin pulang saja, ini juga istri dalam kondisi sakit. Lebih baik kita pulang,” jelas Jefri terpisah.

Hari ini, sebanyak 107 pengungsi Wamena tiba di Lanud Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang dengan pesawat Hercules milik TNI AU. Di mana 14 di antaranya terdiri dari anak-anak.

Mereka berasal dari beberapa daerah. Yakni Probolinggo, Kota Malang, Sidoarjo, Semarang, Solo, Madura Sampang, Surakarta, Lumajang, Salatiga, Ponorogo, Medan, Jombang, Nganjuk, Jember dan Pasuruan. (Hr-www.harianindo.com)