Jakarta – Kerusuhan di Wamena beberapa hari lalu menyebabkan kerusakan parah. Bahkan kondisi di Wamena sedang dalam keadaan kacau. Hal tersebut lantaran bangunan dan kendaraan habis dibakar. Ribuan pendatang eksodus imbas peristiwa kerusuhan selama beberapa hari itu.

Terdapat salah satu warga yang terjebak dalam situasi tersebut. Salah satunya adalah Irmandani Saputra. Irmandani mengungkap bagaimana peristiwa mencekam yang hampir saja merenggut nyawanya.

Ketika Irmandani transit di Bandara Ngurah Rai, toko tempat usahanya dibumihanguskan saat kerusuhan di Wamena. Mulanya, aksi demonstrasi yang berujung kerusuhan itu terjadi di pusat kota. Akan tetapi, karena pusat kota dijaga ketat aparat keamanan, demonstran yang terdiri dari mahasiswa, pelajar, dan masyarakat umum itu bergeser ke pinggiran kota.

“Semua habis terbakar. Kebakaran itu baru pulang dari kota mengarah ke tepi perkotaan. Jadi, karena kota terlalu ketat, aparat banyak, mereka pergi ke pinggir kota. Kami di pinggir kota. Di pinggir kota habis terbakar,” katanya.

“Ada suatu tanah dipagari, kami ke sana. Tapi ternyata mereka masuk dan bakar juga lokasi itu. Terpaksa kami panjat pagar untuk menyelamatkan diri,” tuturnya.

Irmandani bersama ratusan orang lainnya terjebak dalam kerumunan massa yang mengamuk. Irmandani mengkklaim seperti disandera, lantaran dilepaskan setelah demonstran membarternya dengan lima orang mahasiswa yang ditangkap aparat keamanan. Irmandani bersembunyi di gereja demi menyelamatkan diri. Bahkan terdapat pula seorang yang mengaku pedagang minuman menyelamatkan diri dengan masuk ke gereja.(NRY-harianindo.com)