Baghdad – Aksi demonstrasi anti-pemerintah yang berlangsung di Irak rupanya tak kunjung berakhir. Alih-alih mereda, demonstrasi tersebut justru berakhir bentrok dan sudah menyebabkan 100 korban jiwa meninggal dunia. Angka tersebut diungkapkan oleh Kementerian Kesehatan Irak.

Selain korban meninggal dunia, lembaga yang sama juga menyebut sudah 2.500 orang mengalami luka-luka dalam gelombang protes yang terjadi secara serentak di Irak sejak 1 Oktober lalu di Baghdad. Meski tak disebutkan berapa jumlahnya, namun ada pula beberapa personel keamanan yang menjadi korban tewas.

Diprediksi bahwa jumlah korban yang meninggal dunia akan terus bertambah lantaran banyak massa aksi yang mengalami luka parah namun tak mau dirawat ke rumah sakit lantaran takut ditangkap. Selain itu, jumlah stok medis dan unit darah di rumah sakit tak memadai untuk menangani para demonstran.

Baca Juga: Aksi Unjuk Rasa Memakan Korban, Ulama Desak Pemerintah Turun

Kantor berita Anadolu melansir bahwa pada Jumat (04/10/2019) lalu, para demonstran menggeruduk gedung Dewan Provinsi Al-Diwaniyah di Irak selatan.

“Ratusan demonstran menyerbu gedung dewan provinsi setelah bentrokan keras dengan pasukan keamanan,” kata Letnan Polisi Jassim al-Tamimi.

Polisi yang mengamankan demonstrasi menembaki massa aksi agar mau bubar. Sementara pendemo melempari polisi dengan batu. Kejadian tersebut menyebabkan jatuhnya korban di kedua belah pihak.

Dalam tuntutannya, para demonstran meminta agar Perdana Menteri Adel Abdul Mahdi untuk turun dari jabatannya. Selain itu, mereka mendesak agar pemerintah memperbaiki perekonomian Irak dan menghentikan korupsi. (Elhas-harianindo.com)