Jakarta – Mahfud MD, selaku Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan menyatakan bahwa seseorang yang masih menyangsikan dan mengatakan peristiwa penusukan Menko Polhukam Wiranto beberapa waktu lalu merupakan settingan sangatlah kejam.

“Menurut saya yang mengatakan peristiwa penusukkan Pak Wiranto settingan, itu sadis sangat kejam,” kata Mahfud.

Mahfud mengatakan bahwa peristiwa penusukan tersebut nyata adanya. Bahkan, Mahfud mendapat penjelasan secara rinci dari dokter bahwa Wiranto mendapat dua kali tusukan lalu kehilangan darah tiga hingga 4 liter.

“Pascapenusukan itu, usus dalam Pak Wiranto dipotong 60 centimeter. Itu benar, keterangan dokter dan saya menyaksikan sendiri di ICU (RSPAD),” katanya.

Di sisi lain, Mahfud mengatakan bahwa peristiwa Menko Polhukam Wiranto sebuah rekayasa adalah salah satu contoh perbuatan ujaran kebencian dan bisa dituntut secara hukum.

Mahfud mengatakan bahwa ujaran kebencian adalah ucapan atau sikap yang melanggar martabat atau derajat orang lain.

“Ujaran kebencian tidak boleh ditorelansi karena itu yang membuat bangsa kita rusak dan hukum harus ditegakkan bagi yang membuat ujaran kebencian,” paparnya.

Polisi mengatakan bahwa Wiranto menderita luka di tubuh bagian depan. Polisi mengamankan dua pelaku yang terdiri dari satu perempuan dan satu laki-laki. (NRY-harianindo.com)