Jakarta – Polisi mengungkapkan bahwa tersangka teroris dengan inisial NAS yang dibekuk di Tambun adalah bagian kelompok Khilafatul Muslimin. Kelompok tersebut dituding dibuat oleh narapidana terorisme yang berhubungan dengan aksi terorisme Borobudur.

Dalam laporan International Crisis Group (ICG) berjudul ‘Al Qaeda in Southeast Asia: The Case of The Ngruki Networks in Indonesia’, yang terbit pada tahun 2002, terdapat penjelasan terkait sosok Abdul Qadir Baraja. Diketahui, Baraja adalah pendiri Khilafatul Muslimin.

Pada 21 Januari 1985 terjadi peristiwa terorisme pemboman Candi Borobudur. Kerusakan terjadi pada sembiln stupa yang baru saja direstorasi. Baraja menjadi salah satu dari tujuh orang yang ditangkap dalam aksi tersebut.

“Seorang penjual baju dan penceramah keliling, Abdul Qadir Baraja,” tulis laporan tersebut.

Diketahui, Baraja berasal dari Sumbawa. Pada tahun 1979, Baraja sudah pernah ditangkap oleh aparat kepolisian terkait peristiwa perampokan dan pembunuhan yang dilakukan jaringan Warman. Sebelum dirinya ditangkap terkait bom Borobudur. Tiga tahun mendekam di jeruji besi, kemudian dia bebas dan pergi ke Telukbetung, Lampung.

Dia dibekuk oleh aparat di lokasi tersebut pada Mei 1985 lantaran diduga berhubungan dengan bom Borobudur. Selanjutnya, dia mendekam di penjara selama 13 tahun. Dia dengan dakwaan telah menyediakan bahan untuk menjalan aksi bom Borobudur.

“Dia selalu membantah bahwa dia tahu bahan peledak yang dia beli akan dipakai untuk aksi teror (bom Borobudur -red),” kata Direktur Institute of Policy Analysis of Conflict (IPAC), Sydney Jones, kepada wartawan, Senin (14/10/2019).

Jones menjelaskan, Baraja adalah ustaz radikal yang memiliki hubungan dekat dengan Abu Bakar Ba’asyir. Dilansir dari situs Khilafatul Muslimin, pada 18 Juli 1997 Baraja mendirikan kelompok tersebut .

“Khalifatul Muslimin (KM) adalah gerakan non-kekerasan yang ingin membangun kembali khilafah, tapi dengan visi yang lebih mirip Kartosoewirjo daripada ISIS,” jelas Jones.

Apakah KM berhubungan dengan Jamaah Ansharut Daulah (JAD)? “Setahu saya belum ada keterkaitan, walaupun bisa saja ada mantan anggota KM yang menyeberang ke JAD. Tapi KM memang non-violent,” tutur Jones.

Sebelumnya, Minggu (13/10) kemarin, Densus 88 Antiteror melakukan penggeledahan kontrakan yang didiami terduga teroris berinisial NAS di Tambun, Kabupaten Bekasi. Polisi mengklaim bahwa NAS adalah bagian dari Khilafatul Muslimin. Pada penggeldehan tersebut, didapati satu kardus berisi data Khilafatul Muslimin dan satu logo bordir Khilafatul Muslimin.

“Tersangka merupakan bagian dari Khilafatul Muslimin,” ungkap Kapolres Metro Bekasi Kota Kombes Candra Kusuma kepada wartawan, Minggu (13/10) kemarin. (Hr-harianindo.com)