Jakarta – Pemerintah harus benar-benar memutar otak untuk mencari solusi terkait masalah sanitasi dan air limbah di Jakarta. Untuk itu, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menjalin kolaborasi dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) untuk memberikan bantuan terhadap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menanggulangi permasalahan tersebut.

Sejak Juli lalu, sudah ditandatangani proye kerja sama untuk membangun instalasi pengolahan air limbah domestik dan jaringan perpipaan yang juga dikenal dengan Jakarta Sewerage Development Project (JSDP). Proyek ini memiliki tujuan untuk melakukan peningkatan terhadap akses sanitasi di DKI Jakarta juga digunakan untuk melindungi kualitas air dari pencemaran limbah domestik.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono menyatakan bahwa masalah sanitasi tidak hanya soal ketersediaan infrastruktur saja, namun juga bergantung pada pola dan perilaku sehat dari masyarakat dalam menjaga kebersihan.

“Persepsi masyarakat untuk menjaga kesehatan lingkungan masih belum menjadi kebutuhan. Praktik buang air besar sembarangan (BABS) juga masih terjadi di beberapa tempat,” kata Basuki beberapa dikutip dari laman Setkab, Minggu (13/10/2019).

Melalui kolaborasi tersebut akan dibangun proyek sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Domestik di pelayanan zona 6. Dengan target sebesar 180.800 jiwa sebagai penerima manfaat yang berada di 2 kecamatan di Jakarta Pusat, yakni Gambir dan Tanah Abang.

Lalu terdaapt delapan kecamatan yang berada di Jakarta Barat, yakni Cengkareng, Grogol, Petamburan, Kebon Jeruk, Kalideres, Palmerah, Kembangan, dan Tambora; Kecamatan Kebayoran Lama di Jakarta Selatan dan Kecamatan Penjaringan di Jakarta Utara.

Anggaran yang nantinya akan digelontokan untuk pembangunan IPAL di zone 6 tersebut sebesar Rp 4,6 triliun yang berasal dari Kementerian PUPR, bantuan luar negeri (BLN) dari Jepang sebesar Rp 3,75 triliun dan Rp 850 miliar dari APBD DKI Jakarta.

Di kawasan Duri Kosambi akan dibangun zona 6 IPAL dengan kapasitas 282.500 m3/hari menggunakan teknologi pengolahan A2O yang digabungkan dengan Integrated Fixed Film Activated Sludge (IFAS).

Pembanguna tersebut melalui rangkaian 4 fase dan saat ini akan diprioritaskan pada fase pertama yang terdiri dari 4 paket pekerjaan. Paket 1 IPAL (termasuk Stasiun Pompa dan ICB), Paket 2 (Trunk Sewer, Paket 3 (Pipa Servis, Pipa Lateral, dan Pipa Persil dalam model area) serta Paket 4 (Pipa Servis, Pipa Lateral, dan Pipa Persil luar model area). Basic and Detailed Design yang akan dimulai pembangunannya pada Agustus 2019 dan langsung dilanjutkan dengan pembangunan kontruksinya.

Dalam waktu dekat, pemerintah akan membangun IPAL yang berada pada zona 1. Nilai investasi untuk pembangunan tersebut mencapai Rp 9,87 triliun. Terbagi menjadi Rp 7,7 triliun dari Kementerian PUPR dan Rp 2,17 triliun APBD DKI, termasuk untuk jaringan perpipaan dengan sistem interseptor.

Pada Februari 2021, akan dimulai pembangunan IPAl zona 1 di kawasan Pluit dengan luas lahan 3,9 hektar dengan kapasitas sebesar 240.000 m3/hari untuk melayani 220.000 Sambungan Rumah (SR) atau 989.389 jiwa.

Cakupan layanannya meliputi 41 kelurahan yang tersebar di 8 Kecamatan yakni Kecamatan Menteng, Tanah Abang, Gambir, Sawah Besar, Taman Sari, Tambora, Pademangan, dan Penjaringan. Saat ini telah diselesaikan Detail Engineering Desain (DED). (Hr- harianindo.com)