Jakarta – Polisi mendapati bahan-bahan yang diduga akan digunakan untuk meracik racun abrin oleh pelaku terorisme yang berada di Cirebon. Racun tersebut dikabarkan akan digunakan untuk meracik bom kimia.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) memberikan penjelasan terkait mulai dari fakta-fakta abrin hingga cara kerja dan penanggulangannya di situsnya. CDC merupakan pusat pengendalian dan pencegahan penyakit yang berada di Amerika Serikat.

Dikutip dari CDC, abrin merupakan racun alami yang ada pada biji tanaman rosary pea atau jequirity pea (Abrus precatorius – saga rambat). Memiliki biji yang berwarna merah dan bintik hitam diujungnya. Abrin dan risin memiliki kesamaan lantaran tanaman yang berasal dari biji, tapi abrin diketahui memiliki dosis yang lebih tinggi.

Saga rambat, yang merupakan tanaman sumber abrin, banyak ditemukan di daerah tropis. Terkadang, tanaman tersebut dapat digunakan untuk menyembuhkan penyakit secara herbal. Ada penelitian medis yang meneliti potensi abrin dalam melawan sel kanker. Mengutip CDC, abrin diketahui belum digunakan sama sekali dalam tindakan terorisme.

Abrin hanya dapat diekstrak dari tanaman saga dan dapat dengan sengaja digunakan untuk meracuni orang. Paparan tanpa adanya unsur kesengajaan tidak mungkin terjadi.

Abrin dalam bentuk bubuk yang terhirup oleh manusia dapat menyebabkan orang tersebut terpapar, menyentuh permukaan bekas abrin, atau jika bubuk abrin masuk ke mata atau kulit. Abrin juga dapat masuk ke dalam tubuh dengan berbagai cara seperti tertelan lewat air atau makanan atau lewat suntikan.

Cara kerja abrin adalah dengan menghambat dari produksi protein yang dibutuhkan oleh tubuh. Tanpa protein, sel-sel tersebut bisa mati dan dapat berakibat pada kematian. Hingga saat ini, belum ditemukan obat penawar untuk abrin. Penanganan hanya dapat dilakukan dengan mengurangi efek dari keracunan tersebut.

Setelah delapan jam akan muncul gejala keracunan abrin melalui pernapasan atau ditelan. Kendati demikian, gejala juga bisa baru muncul dalam waktu 1-3 hari. CDC mengungkapkan bahwa lantaran racun abrin kematian bisa terjadi setelah 36-72 jam.

Sebelumnya diberitakan, Ketua JAD Cirebon berinisial YF dibekuk pada Senin (14/10) di Desa Panembahan, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Dalam penangkapan tersebut, polisi menemukan penemuan yang aneh. Polisi menjelaskan bahwa ada bom yang memiliki daya ledak tinggi dengan bahan kimia.

“Temuan menarik pada hari ini bahwa untuk bom-bom yang sudah disiapkan untuk digunakan oleh ‘pengantin’ ini memiliki daya ledak tinggi atau high explosive, campuran kimia lebih berbahaya,” jelas Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (15/10/2019).

“Kalau ini menggunakan berbagai bahan, metanol, urea, dan lain-lain. Itu explosive semua. Ditambah racun abrin dengan kurang 0,7 mikrogram. Racun ini membunuh 100 orang,” lanjutnya.

Di antara barang bukti yang berhasil disita dari rumah YF, ada 310 gram biji saga. Berdasarkan penjelasan dari Mabes Polri, biji saga adalah bahan utama dari racun abrin.(Hr-harianindo.com)