Jember – Baru-baru ini di Jember terjadi penyanderaan terhadap dua orang perempuan yang terlilit utang Rp 230 juta. Dua korban tersebut disandera selama 6 hari.

“Korban disandera selama 6 hari. Tadi sore berhasil kita bebaskan. Terduga pelaku kita amankan dan sekarang masih kita mintai keterangan,” ujar Kapolres Jember AkBP Alfian Nurrizal, Minggu (03/11/2019).

Menurut Alfian, korban bernama Etfawati (53) dan Nur Ipah (52). Keduanya merupakan warga Kelurahan Mamboro, Kecamatan Palu Utara, Kota Palu, Sulawesi Tengah. Sementara terduga pelaku adah Karmawi (53), warga Desa Sisipan, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai dan M Ali (56), warga Dusun Loncatan, Desa Mangaran, Kecamatan Ajung, Jember.

“Lokasi penyanderaan di rumah M Ali,” ucap Alfian.

Alfian membeberkan bahwa pada Mei lau Erfawati menjalani usaha jual beli beras bersama Karnawi. Rencananya beras tersebut akan dijual kepada korban gempa di Palu.

“Ternyata harga beras yang hendak dijual itu terlalu mahal. Sehingga akhirnya beras itu dijual murah. Kasarnya dijual rugi lah,” jelas Alfian.

Lantaran mengalami kerugian, Erfawati harus menanggung beban kerugian sebesar Rp 230 juta. Lantaran belum bisa melunasi hutang tersebut, M Ali dimintai bantuan oleh Karnawi.

“M Ali ini menghubungi Erfawati dan akan dibantu persoalan uang yang dianggap utang-piutang itu,” jelas Alfian.

Erfawati pun setuju lantaran dirinya percaya. Bersama temannya, Nur Ipah, Erfawati pun berangkat kemudian ia tiba diBandara Juanda Surabaya pada 28 Oktober lalu dijemput oleh M Ali.

Selanjutnya, Erfawati dan Nur Ipah pun bertolak ke rumah M Ali. Ternyata, Karnawi sudah ada di rumah tersebut.

“Di situlah korban diminta melunasi utangnya. Jika tidak, korban tidak bisa pulang,” tutur Alfian.

Menurut Alfian, sebenarnya korban sudah memiliki niatan untuk melunasi hutang tersebut. Korban pun meminta tenggat waktu untuk menjual terlebih dahulu tanahnya yang ada di Jakarta.

“Tapi oleh M Ali korban tidak boleh keluar rumah sampai urusan utang itu selesai,” terang Alfian.

Selama 6 hari, kedua korban terpaksa disekap di dalam rumah M Ali. Kendati demikian, ungkap Alfian, keduanya tidak sampai mendapatkan kekerasa secara fisik.

“Pengakuan keduanya tidak ada kekerasan secara fisik. Hanya sesekali dibentak-bentak supaya keduanya ini segera bayar tanggungannya,” jelas Alfian.

Setelah mendapatkan laporan dari masyarakat, polisi pun akhirnya membebaskan mereka berdua. Alfian pun turun langsung dalam upaya pembebasan mereka berdua.

Saat ditanya hubungan antara M Ali dan Karnawi, menurut Alfian masih dalam tahap pemeriksaan. “Kita belum tahu apakah M Ali dan Karnawi ini saudara atau hanya teman. Ini masih kita selidiki,” ujar Alfian.

Yang jelas, kata dia, permasalahan hutang Rp 230 juta hanya terkait Erfawati dan Karnawi. “M Ali dan Karnawi masih kita mintai keterangan secara intensif,” tukas Alfian. (Hr-harianindo.com)