X
  • On 12/03/2014
Categories: Gaya Hidup

Mengapa Diet Bisa Gagal?

Auckland – Hampir semua orang yang pernah mencoba mengurangi beratnya telah merasakan pahitnya kegagalan. Perasaan ketika bisa memakai lagi baju-baju lama tanpa merasa sesak, seakan mengalahkan tujun utama diet tersebut, yang tentunya agar tubuh menjadi lebih sehat. Namun banyak di antara kita yang tidak mampu bertahan lama menuju target tersebut.

Seperti dilansir dari New Zealand Herald (Selasa, 11/3/2014), sebuah penelitian mengatakan bahwa banyak kiat menurunkan badan gagal karena tubuh kita mengaktifkan serangkaian mekanisme fisiologis yang sangat kuat, yang banyak berasal dari perubahan hypothalamus, sebuah bagian yang terletak di dasar otak, yang mencegah tubuhb kita untuk kehilangan berat terlalu banyak dalam waktu yang terlalu cepat.

Mekanisme ini, yang bisa disebut dengan Reaksi Kelaparan, sangat penting keberadaannya dalam kelangsungan hidup spesies manusia, karena berguna untuk mencegah penurunan berat badan secara drastis, sekaligus membantu memulihkannya. Meniliik sejarah, ketika manusia masih hidup di jaman sebelum pertanian ditemukan, manusia masih bergantung pada mengumpulkan makanan, yang oleh karenanya, sangat tergantung pada kondisi musim. Jika musim sedang buruk, makanan jarang ditemukan, maka menyimpan energi merupakan langkah terbaik untuk bertahan hidup. Mirip proses hibernasi pada hewan.
Namun demikian, meski Reaksi Kelaparan ini menolong manusia di jaman itu, mekanisme fisiologis ini terbukti menimbulkan masalah obesitas pada masa kini dimana ketersediaan makanan, terutama dengan kalori tinggi, sangat melimpah.

Adapun tiga gejala Reaksi Kelaparan, antara lain

• Lapar: saat memulai sebuah program diet, mungkin anda belum merasa lapar. Namun jika berat anda sudah mulai turun banyak, meski anda sudah sarapan sesuai dengan program tersebut, anda akan cepat merasa apar kembali. Itu merupakan Reaksi Kelaparan untuk melindungi anda dari kehilangan lebih banyak berat lagi.

• Lesu: ketika anda sedang diet, dan Reaksi Kelaparan sudah mulai berjalan, anda akan merasa lemas dan lesu, bergerak seperti terasa sangat berat. Hal tersebut disebabkan tubuh anda dilambatkan oleh otak agar tidak membuang lebih banyak lagi energi.

• Meriang/kedinginan, meski siang hari: pada fase ini, Reaksi Kelaparan mulai menurunkan metabolisme tubuh, seperti ketika anda terkena flu. Hasilnya adalah, proses hilangnya berat badan akan berhenti total, meski anda juga melengkapi diet dengan olahraga.

Satu poin penting lain dalam Reaksi Kelaparan adalah, mekanisme ini tidak akan hilang meski anda bertahan lebih lama dan berolahraga lebih. Lalu, bagaimana melawan Reaksi Kelaparan? Para ahli mengatakan bahwa metode terbaik melawan mekanisme alami tubuh ini adalah dengan mengatur porsi makanan. Makan lebih banyak di waktu tertentu, terutama pada waktu dimana rasa lapar benar-benar telah mengganggu aktifitas anda.

Riset mengatakan bahwa mengatur porsi makan dan sekaligus mengatur berat badan, bukan terus menerus berusahan menguranginya, bisa membantu menonaktifkan Reaksi Kelaparan. Proses tersebut dapat mencegah terjadinya penurunan drastis metabolisme tubuh yang memberikan efek lesu dan meriang tadi. (Rini Masriyah – www.harianindo.com)

yayan vvotak: