X
  • On15/06/2017
Categories: NasionalRagam Berita

Takmir Masjid Jami’ Surati Gereja Immanuel Malang Terkait Sholat Ied di Hari Minggu

Malang – Takmir Masjid Jami’ Malang Surati Majelis Jemaat Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) Immanuel Malang pada Selasa (13/6/2017) terkait pelaksanaan sholat Idul Fitri yang akan diadakan pada Hari Minggu, 25 Juni 2017.

Surat tersebut ditandatangani oleh Ketua Takmir Masjid Jami’ KH Zainuddin A Muchit dan Sekretaris KH Moch Effendi.

Seperti diketahui, kedua tempat ibadah tersebut memang letaknya saling bersebelahan di Jalan Merdeka Barat, Kota Malang, tidak jauh dari alun-alun Kota Malang.

Melalui surat tersebut pihak masjid memberitahukan bahwa sholat ied yang diadakan pada Minggu pagi akan memakai Jalan Merdeka Barat karena masjid tidak dapat menampung jumlah jamaah yang akan sholat ied.

Dengan demikian, akses Jalan Merdeka Barat dan sekitarnya di bundaran Alun-alun Kota Malang akan ditutup, termasuk jalan akses masuk menuju GPIB Immanuel. Sedangkan hari Minggu pagi merupakan hari ibadah umat Kristen.

“Saya sudah buat surat dan tadi (kemarin) sudah kami berikan mengenai tanggal 25 pas hari Minggu kita solat Ied. Kita memberitahukan akan pakai sepanjang Jalan Merdeka Barat dan sekitarnya serta alun-alun untuk solat. Dengan pemberitahuan ini kami mohon permakluman jam sembilan kita sudah selesai semua,” ujar KH Moch Effendi.

Menurut Effendi, kegiatan yang bersamaan antara dua tempat ibadah yang berdampingan ini tidak hanya sekali ini saja terjadi dan itu tidak menjadi permasalahan asalkan ada komunikasi yangbaik antara pengurus masjid dan gereja.

Bila ada kegiatan Kristiani pengurus gereja juga berkirim surat ke takmir masjid, sehingga selama ini tidak pernah ada konflik di antara mereka.

“Kalau kegiatan waktunya sama sering, harus ada yang mengalah. Dari dulu tidak ada masalah antara kami dengan gereja, rukun-rukun saja,” ucapnya.

Sedangkan Majelis Jamaat GPIB Immanuel mengaku telah menerima surat dari Takmir Masjid Jami’ Malang. Pengurus gereja lantas memundurkan jam ibadah yang semula dimulai pukul 08.00 WIB menjadi pukul 08.30 WIB.

“Dengan pemberitahuan ini kami akan menunda ibadah kami, estimasinya mereka solat Ied pukul 06.00 selesai pukul 07.00 tapi membersihkan koran, tenda, parkir juga butuh waktu, 08.30 bisa selesai semua dan kita sama-sama bisa menjalankan ibadah,” ujar Ketua Majelis Jemaat GPIB Immanuel Pendeta Richard Agung Sutjahjono saat ditemui di GPIB Immanuel.

Menurut Ketua II Majelis Jamaat GPIB Immanuel Wido Pradipto, toleransi antara dua tempat ibadah sudah saling terjalin selama berabad-abad. Pada saat perayaan Natal tahul lalu yang bersamaan dengan Isra’ Miraj, pengurus gereja juga berkirim surat permakluman kepada Takmir Masjid karena mendatangkan jemaat dalam jumlah besar.

“Tahun lalu kita juga kirim surat ke masjid, kita juga diundang datang waktu ada haul, kalau ada kegiatan ibadah mendatangkan umat banyak, biasanya antara kita dengan masjid saling mengundang kalau tidak berkirim surat,” ungkapnya.

Kejadian yang sama terjadi pada perayaan Idul Fitri di tahun 2014 lalu dimana Ketua Umum Takmir Masjid Jami’ KH Zainuddin A Muchit meminta maaf kepada Majelis Jamaat GPIB Immanuel karena sholat Ied harus menunda ibadah kebaktian.
Kisah ini lantas menjadi sorotan dunia internasional, bahkan Takmir Masjid Jami’ dan Majelis Jamaat GPIB mendapatkan penghargaan dari Komunitas Gusdurian karena toleransi yang mereka tunjukkan.

Dari sejarahnya, GPIB Immanuel Malang memang didirikan lebih dulu oleh pemerintah Belanda pada 1816 , baru kemudian Masjid Jami’ dibangun pada tahun 1875 oleh Raden Tumenggung Suryodiningrat. Sedangkan alun-alun Kota Malang yang berada diseberang jalan dibangun belakangan.
(samsul arifin – www.harianindo.com)

Samuel Philip Kawuwung: