Jakarta – Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, mengimbau agar masyarakat tidak menjadi panik terhadap serangan virus Ransomeware WannaCry yang telah menyerang banyak negara secara global.

Serangan Virus Ransomeware WannaCry, Menkominfo Imbau Masyarakat Tidak Panik

Menkominfo menjelaskan bahwa pihaknya telah mengambil langkah-langkah antisipasi guna mencegah penyebaran virus tersebut.

“Langkah teknis bagi orang IT sudah kita siapkan, juga sudah siapkan tim yang dikoordinir oleh ID SIRTII dan Kementerian Kominfo. Namanya siapa, nomor telponnya berapa, kalau diperlukan nanti konsultasi. Jadi kepada siapapun, kepada kementerian, lembaga, organisasi, perusahaan swasta yang mempunyai sistem IT di perusahaanya tidak usah panik,” kata Rudiantara di Jakarta, Minggu (14/5/2017).

Seperti diketahui, virus WannaCry telah menyerang layanan Rumah Sakit di Inggris dan Skotlandia, yang mengakibatkan data rumah sakit tidak bisa dibuka dan meminta imbalan bila data tersebut ingin dibuka. Hal ini berakibat RS harus melakukan pelayanan dengan cara manual. Kasus di Indonesia sendiri dialami oleh RS Dharmais.

Menurut staf Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure (ID-SIRTII) Adi Jaelani, serangan virus Ransomeware WannaCry mengarah ke sistem server dan operasi Windows 8 ke bawah atau versi 2008 ke bawah yang belum melakukan update terbaru untuk menambal (patch) celah keamanan.

“Tapi yang jelas sistem yang rentan tersebut patchingnya (menambal atau mengamankan) sudah ada dua bulan lalu, dua bulan lalu patchingnya sudah ada, kalau adminnya melakukan patching aman, ini terkait adminnya yang mengaktifkan patching, dia rajin atau tidak untuk update,” kata Adi Jaelani.

Untuk saat ini belum ada anti virus yang dapat mengembalikan data yang telah terinfeksi. Sementara ini, yang bisa dilakukan hanya melokalisir file data yang terinfeksi agar tidak makin menyebar.

“Kalau untuk menghilangkan virus nanti kita akan bekerjasama dengan antivirus antivirus yang lain, sekarang baru lokalisir jangan sampai menyebar ke tempat lain, kalau untuk ‘decript’ (membuka kunci/sandi) untuk mengembalikan data itu di seluruh dunia juga belum, belum ketemu decryptnya,” katanya.
(samsul arifin – harianindo.com)