Jakarta – Salah satu relawan #2019GantiPresiden, Mustofa Nahrawardaya mengatakan, rakyat Indonesia butuh sosok pemimpin baru yang bisa membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.

Relawan #2019GantiPresiden Ingin Indonesia Lebih Beradab dan Presidennya Lancar Bahasa Inggris

“Seluruh rakyat Indonesia, khususnya saya, bermimpi Indonesia punya wajah baru. Saya tidak pernah melihat suatu era kepemimpinan setelah Pak SBY, yang mana suasana sangat mencemaskan, mengkhawatirkan, tidak pernah tenang, kabinet gonta-ganti, bagi-bagi kursi. Saya tidak ingin seperti itu terjadi di masa yang akan datang,” kata Mustofa dalam sebuah diskusi bertajuk ‘Politik Tagar Bikin Gempar’ di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (6/4/2018).

Mustofa lantas menyinggung soal DKI Jakarta yang kini dipimpin pemimpin baru hingga menjadi lebih beradab.

“Tercontohkan di DKI. Semula hawanya keras-keras, ada tidak beradab. Sekarang sudah kembali menjadi provinsi yang beradab,” ucapnya.

Mustofa juga menambahkan, seorang pemimpin juga harus lancar bahasa Inggris sehingga bisa membanggakan Indonesia di mata internasional.

“Begitu juga Indonesia. Akan jadi negara yang terberkahi, negara yang berkah bagi negara lain. Jadi kebanggaan bagi kita semua. Sehingga nanti ada wajah baru, kita memiliki presiden yang lancar berbahasa Inggris yang dibanggakan seluruh dunia. Dia bisa berkomunikasi lancar dengan presiden lain, kita melihat bangga di televisi kita, pemimpin kita itu menjadi terhormat di negara lain. Ini mimpi kita semua,” ujar Mustofa.

Pada kesempatan yang sama, Presiden Republik Cyber Projo Nur Sukarno mengatakan bahwa Indonesia sedang berkembang era demokrasinya. Karena itu, pemerintah pasti akan menerima segala kritik yang membangun.

“Biarlah pemerintahan Pak Jokowi itu bekerja tanpa harus direcoki. Kritikan kalau membangun, Pak Jokowi pasti akan memberi apresiasi,” kata Nur.

Ia juga menganggap relawan #2019GantiPresiden sebagai partner yang bisa bersama-sama membangun Indonesia.

“Pembangunan yang tadinya mangkrak-mangkrak diselesaikan saat ini. Bukan pencetus ide, tapi menyelesaikan bagaimana. Bagaimana menyelesaikan, tapi tolong kasih kesempatan karena 3 tahun itu membangun apa? Bangun gedung Burj di Dubai saja lebih ya. Hal yang mengkritisi kami terima, asal di koridor yang benar. Kurangi hate speech, kita berbeda itu hal biasa,” tambah Nur.
(samsul arifin – harianindo.com)