Jakarta – Ternyata, terkait tentang masalah pembubaran Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) di Sasana Budaya Ganesha, Bandung, masih belum selesai hingga kini. Sebelumnya, kedua belah pihak, yakni penyelenggara acara dan ormas Pembela Ahlus Sunnah (PAS), telah melakukan mediasi. Namun, dalam mediasi tersebut masih belum adanya kata damai dari kedua pihak

Gerakan Mahasiswa Kristen Laporkan Ormas Pembubar KKR Natal ke Polisi

Rencananya, Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia, Sahat Martin Philip Sinurat, bakal melaporkan PAS ke Bareskrim Polri dengan dugaan tindak pidana kejahatan terhadap ketertiban umum sebagaimana yang telah diatur dalam Pasal 175 dan 176 KUHP.

“Membubarkan KKR merupakan pelanggaran hak konstitusional warga negara yang sedang menjalankan ibadah yang dipeluknya,” ujar Sahat di kantor Bareskrim Polri, Jakarta, Selasa (20/12/2016).

Sahat mengatakan bahwa kelompok yang membubarkan ibadah mereka tersebut menyebut bahwa kegiatan hanya diperbolehkan hingga sore hari. Padahal, pihak panitia acara mengaku telah mendapat izin kegiatan hingga malam hari sekitar pukul 20.30 WIB.

“Kami laporkan ini supaya polisi bisa bertindak tegas,” kata Sahat.

Dari mediasi yang telah dilakukan, Sahat mengungkapkan bahwa muncul kesepakatan antara panitia acara dengan kelompok PAS. Menurut dia, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil meminta pihak PAS untuk mengajukan permintaan maaf dalam kurun waktu sepekan. Akan tetapi, permintaan maaf tersebut tak kunjung disampaikan.

“Kami maunya damai dengan mediasi, tetapi belum ada iktikad baik. Ini yang kami khawatirkan,” kata dia.

Pemerintah daerah maupun pemerintah pusat menyampaikan bahwa kegiatan keagamaan tak boleh dibubarkan oleh kelompok mana pun. Lantaran imbauan saja dinilai tidak mempan, Sahat menganggap harus ada upaya hukum yang dilakukan agar tidak menjadi buruk ke depannya.

Baca Juga : MUI Menolak Tudingan Fatwa Atribut Natal Memancing Kegaduhan

“Kami lihat pemerintah harus tegas, jangan sampai ormas merasa ini pembenaran dan melakukan hal ini di daerah lain,” kata Sahat.

(bimbim – harianindo.com)