Jakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyatakan bahwa masyarakat masih belum sepenuhnya sadar akan potensi hasil perikanan di Indonesia. Perikanan saja, menurut Susi, merupakan komodita yang cukup besar di pasa internasional.

Dia juga menyatakan bahwa kegeramannya kepada buzzer-buzzer yang menurutnya merendahkan potensi perikanan lele di Indonesia. Menurutnya, Jawa Timur saja sudah berhasih menjadi daerah eksportir terbesar di dunia.

“Padahal fishery product its the second biggest market comodity in the world. Sampai saya suka kesel, ikan lele itu diejek buzzer nakal, diejek-ejek sama mereka,” kata Susi di acara Gerakan 1000 Startup, Minggu (18/08/2019).

“Padahal lele itu potensi banyak, Jawa Timur itu sudah jadi eksportir besar ikan lele,” tegasnya.

Lebih lanjut, Susi menganggap bahwa salah satu yang membuat orang Indonesia kurang menaruh perhatian terhadap potensi hasil laut adalah pemasaran produk yang masih konvesional. Susi berkaca dari Eropa, di sana menurutnya penjualan ikan sudah ada aplikasinya, yang membuat nelayan dan konsumen dapat terhubung dengan baik.

“Tapi saya lihat marketing kita ini masih tradisional. Di Eropa dan di mana-mana itu ada namanya fitur online, semua yang ditangkap nelayan di laut apa-apa saja bisa di-display di platform, pembeli juga bisa pesan bisa request,” ungkap Susi.

“Jadi kayak national dashboard gitu lho,” lanjutnyanya.

Untuk informasi, pada tahun 2018 sendiri Indonesia mencatatkan 1.126.070 ton hasil laut, dengan pendapatan mencapai US$ 4,8 miliar. Mulai dari hasil rumput laut, udang, cumi-cumi, kepiting, hingga beragam hasil perikanan. (Hr-harianindo.com)