Jakarta – Belakangan ini kembali ramai diperbincangkan soal wacana pemindahan Ibu Kota dari Jakarta ke kota lain, khususnya yang terletak di Pulau Kalimantan.

Wacana Pemindahan Ibu Kota Sudah Muncul Sejak Presiden Soekarno

Bahkan menurut Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Bambang Brodjonegoro kajian terhadap kota mana yang akan dipilih sebagai Ibu Kota yang baru akan rampung pada tahun ini.

Dalam sejarahnya, wacana pemindahan Ibu Kota ternyata sudah ada sejak jaman pemerintahan Presiden Soekarno lalu. Hal ini dibuktikan dengan pernyataan Presiden Soekarno saat meresmikan Kota Palangka Raya sebagai Ibu Kota Kalimantan Tengah pada 1957.

Pada saat itu Bung Karno mengungkapkan bahwa dirinya telah membuat master plan yang akan menjadikan Palangka Raya sebagai Ibu Kota negara.

Bung Karno kemudian menyinggung kembali rencana pemindahan Ibu Kota ke Palangka Raya saat mengisi Seminar TNI-AD I di Bandung pada 1965.

“Mari kita jadikan Jakarta dan Surabaya sebagai kota-kota mati. Kedua kota besar itu bagi saudara-saudara kita di luar Jawa ibaratnya sudah menjadi Singapura dan Hong Kong-nya Indonesia. Modal hanya berpusat di kedua kota besar itu, dan seolah-olah mengeksploitir daerah-daerah di luar Jawa,” kata Presiden Soekarno saat itu.

Lalu di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga kembali muncul wacana untuk memindahkan Ibu Kota dari Jakarta. Saat itu, SBY memberikan tiga opsi untuk mengatasi kemacetan di Jakarta.

Yang pertama, Ibu Kota tetap di Jakarta namun dilakukan pembenahan total.

Kedua, Jakarta tetap menjadi Ibu Kota namun pusat pemerintahan dipindahkan ke daerah lain. SBY saat itu mencontohkan Malaysia, yang beribu kota di Kuala Lumpur tapi pusat pemerintahannya di Putra Jaya.

Sedangkan opsi ketiga, dibangun Ibu Kota baru seperti Canberra di Australia, dan Ankara di Turki.

Menurut Bappenas, pemindahan Ibu Kota bukan semata ingin meneruskan cita-cita dari Presiden Soekarno, namun memang telah melalui kajian mendalam. Palangka Raya dipandang lebih aman karena tidak memiliki gunung berapi dan lautan lepas sehingga aman dari ancaman gempa bumi.
(samsul arifin – harianindo.com)