Jakarta – PDI-P memutuskan untuk beberkan hasil perhitungan internal partai kepada publik sebagai bentuk transparansi penghitungan suara pemilu. Keputusan ini menjadi tantang tersendiri dari kubu Jokowi kepada kubu Prabowo untuk melakukan hal serupa yang diklaim memenangkan paslon 02.

Prabowo Dianggap Hanya Menerima Quick Count Soal Partai, Tapi Tolak Hasil Pipres 2019

Sampai siang kemarin, data yang masuk 7,75 persen atau 59.503 dari 809.306 TPS. Data tersebut menunjukkan 63 persen untuk kemenangan Jokowi-Ma’ruf dan 37 persen untuk Prabowo-Sandi. Atau sekitar 10 juta pemilih.

Saat konferensi pers kemarin, Hasto Kristiyanto menuturkan bahwa “Ini siap diaduit bahkan KPU kalau mau membandingkan antara data kami dengan Gerindra, BPN, kami juga siap untuk dicek sistemnya,”

“Kita melihat situasi sekarang partai politik pendukung Prabowo-Sandi pun mengakui quick count untuk partai politiknya. Sehingga sangat ironi ketika parpol quick count diterima kemudian untuk quick count pilpres tidak diterima,” ujar Hasto.

“Pak Prabowo di DKI yang memenangkan pak Anies-Sandi juga menggunakan hitung cepat sebagai instrumen hitung cepat yang bisa dipertanggungjawabkan keakuratannya dari aspek metodelogi,” kata Hasto.

Kendati demikian, Hasto tidak ingin sesumbar pihaknya telah menang Pilpres ini. Dalam hitung cepat telah menang dengan angka 54 persen. Seperti yang telah diminta Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

“Ibu Megawati mengingatkan kami kita semua sebaiknya menunggu proses rekapitulasi secara berjenjang oleh KPU,” tandasnya.

(Ikhsan Djuhandar – harianindo.com)