Jakarta – Semenjak Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menegaskan posisi mereka sebagai oposisi pemerintahan Joko Widodo, partai tersebut kini tengah sibuk berkonsolidasi politik.

Baru-baru ini, PKS mengadakan pertemuan dengan Partai Berkarya pada Selasa (19/11/2019). Pendekatan dengan kubu Cendana itu merupakan langkah kedua setelah sebelumnya PKS sempat bertemu dengan para kader elit Partai Nasdem.

Langkah-langkah yang diambil PKS tersebut menandakan bahwa partai tersebut tak ingin sendirian dalam menjalani peran sebagai oposisi. Hal tersebut diungkapkan oleh pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wasisto Raharjo.

“Pada dasarnya PKS ini tidak mau beroposisi sendiri menghadapi pemerintahan Jokowi sehingga mengajak partai lain bergabung. Hal ini juga semacam jadi tolok ukur PKS untuk uji konsistensi dan loyalitas mitra partainya apa tetap setia beroposisi selama 5 tahun,” kata Wasisto pada Senin (18/11/2019).

Baca Juga: Politisi PKS Debat Dengan PDIP Saat Singgung Ahok dan Anies

Tak hanya partai politik, PKS juga bermanuver mendekati sejumlah kelompok berbasis Islam. Hal tersebut nampak dari ujaran Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera yang akan mengajak Presidium Alumni (PA) 212 dan Front Pembela Islam (FPI) dalam barisan oposisi.

“Tapi juga perlu massa yang lebih besar. Karena itu FPI dan PA 212 diajak,” kata Wasisto.

Pada satu sisi, strategi tersebut mampu mengamankan aliran dana oposisi dari Tommy Soeharto sebagai Ketua Umum Partai Berkarya. Tak hanya itu, mereka juga mendapat suara dari massa mengambang ormas FPI maupun PA 212.

“Tapi kerugiannya adalah PKS tidak punya tujuan politik sendiri melainkan hanya jadi batu loncatan kekuatan politik kanan konservatif untuk menekan pemerintah,” ungkapnya. (Elhas-harianindo.com)