Puisi Untuk Guru, Pantun Memperingati Hari Guru NasionalJakarta – Guru adalah seorang yang sangat berjasa bagi kehidupan masyarakat, bangsa dan negara. Sebutan Pahlawan Tanpa Tanda Jasa sering tersematkan pada profesi tersebut. Dan dari tangannya lah para pemimpin dunia dan orang-orang hebat bisa memberikan inspirasi bagi sesama.

Sedemikian besarnya jasa dan pengorbanan yang telah dilakukan oleh seorang guru, sehingga setiap tanggal 25 November bangsa Indonesia akan memperingati Hari Guru Nasional.

Mungkin tidak banyak yang bisa kita lakukan untuk membalas apa yang telah guru kita berikan. Hanya kata-kata indah yang terangkai dalam sebuah puisi dan pantun untuk mewakili rasa terima kasih untuk setiap guru yang telah hadir untuk kehidupan ini.

Berikut adalah kumpulan puisi dan pantun memperingati Hari Guru Nasional, 25 November 2014 :

PAHLAWAN TANPA LENCANA

Pagi yang indah deruan angin menerpa wajah
Dingin menyelimuti langkah penuh keikhlasan
Renungan hanya untuk sebuah kejayaan
Berfikir hanya untuk sebuah keberhasilan

Tiada lafaz seindah tutur katamu
Tiada penawar seindah senyuman mu
Tiada hari tanpa sebuah bakti
Menabur benih kasih tanpa rasa lelah

Hari demi hari begitu cepat berlalu
Tiada rasa jenuh terpancar di wajah mu
Semangat mu terus berkobar
Memberikan kasih sayang tiada rasa jemu

Jika engkau akan melangkah pergi
Ku tau langkahmu penuh pengorbanan
Jika dirimu telah tiada dirimu kan selalu di kenang
Kau adalah pahlawan tanpa lencana.
(saifuddin usman@REVO-Srikand FM)

PELANGI UNTUK GURU

Dia…
Dia yang mengajariku selama ini
Dia yang menjadikanku seperti ini
Dia yang rela dititipkan seorang aku..
Benda kosong melompong yang saat itu hanya penuh nafsu..

Lalu…
Ia anggap diriku layaknya selembar kertas putih
Dilukisnya warna-warna damai nan berarti
Putih, agar diriku berpikiran jernih
Emas, agar diriku bersinar cerah
Dan merah, agar hatiku penuh dengan semangat yang membara

Dan kini aku pun mengerti…
Dirinya yang telah membuat diriku penuh isi
Yang membuatku mengerti, bahwa hidup itu untuk dijalani
Dan yang membuatku bahagia memiliki warna-warna pelangi

Suatu saat nanti, aku akan kembali padanya..
Membalas budinya..
Melukiskan beribu pelangi yang pantas ia banggakan

Jasaya untukku takkan pernah tergantikan
Ku ucapkan terimakasih untukmu, pelita hatiku
Ku ucapkan terimakasih untukmu..

Terima Kasih Jasamu
Oleh: Wiwi Sudanti
Kelas VI SDN 04 Karangklesem
Purwokerto, Jawa Tengah

Begitu besar jasamu
Kau tak kenal lelah
Mengajariku
Mengingat dengan sepenuh hati

Guru
Karena kau aku pandai
Karena kau aku mendapat ilmu
Terima kasih guru

Jika tiada di dunia ini
Aku tak dapat mencari ilmu
Aku tak tapat menggapai cita-citaku
Terima kasih atas jasa-jasamu

Pahlawan Pendidikan

Jika dunia kami yang dulu kosong
tak pernah kau isi
Mungkin hanya ada warna hampa, gelap
tak bisa apa-apa, tak bisa kemana-mana
Tapi kini dunia kami penuh warna
Dengan goresan garis-garis, juga kata
Yang dulu hanya jadi mimpi
Kini mulai terlihat bukan lagi mimpi
Itu karena kau yang mengajarkan
Tentang mana warna yang indah
Tentang garis yang harus dilukis
Juga tentang kata yang harus dibaca
Terimakasih guruku dari hatiku
Untuk semua pejuang pendidikan
Dengan pendidikanlah kita bisa memperbaiki bangsa
Dengan pendidikanlah nasib kita bisa dirubah
Apa yang tak mungkin kau jadikan mungkin
Hanya ucapan terakhir dari mulutku
Di hari pendidikan nasional ini
Gempitakanlah selalu jiwamu
wahai pejuang pendidikan Indonesia

SEKUNTUM BUNGA UNTUK GURU-GURU TERCINTA

Allah ciptakan matahari, yang tak pernah bosan bersinar, seperti halnya semangat dan kasih sayangmu dalam mendidik kami, wahai guruku……

Allah ciptakan bulan untuk menerangi malam, seperti halnya engkau bu guru, yang selalu membimbing dan menerangi kami dengan berbagai ilmu

Allah ciptakan bintang dimalam hari sebagai penghias, seperti halnya engkau bu guru, yang selalu menghiasi hari-hari kami dengan begitu indahnya.

Allah ciptakan bunga yang begitu harum, seperti halnya engkau bu guru yang telah memberikan keharuman pada hari-hari kami, selama kami bermain dan belajar disekolah.

Jasa bakti tak pernah hilang

(Dwi Kristyowati – harianindo.com)