Jakarta – Yayat Supriyatna, selaku Pengamat Tata Kota menyatakan bahwa upaya pemindahan ibu kota ke Kalimantan Timur bisa saja merupakan pilihan yang baik untuk mencegah penurunan tanah terjadi dengan cepat. Karena pindahnya ibu kota, beban Jakarta bisa berkurang, baik dalam hal pengambilan air tanah maupun pengambilan sumber daya lainnya.

Seperti diketahui bahwa, Badan Geologi Kementerian ESDM mencatat hasil pemantauan dengan GPS Geodetic. Hasilnya menunjukkan laju penurunan tanah di Jakarta Utara mencapai 12 cm setiap tahunnya. Apabila dibiarkan bukan tidak mungkin Jakarta akan tenggelam secara harafiah.

“Salah satu beban Jakarta yang berkurang mungkin pengambilan air tanahnya atau pengambilan ya sumber daya lainnya sehingga menyebabkan penurunan itu mungkin tidak lebih cepat lagi,” tutur Yayat.

Yayat mengungkap bahwa penurunan permukaan tanah akan terus terjadi. Jika sudah begitu, kemungkinan Jakarta akan tenggelam bisa lebih cepat.

“Jadi kalau tidak ada upaya pengurangan beban, ya Jakarta akan begini selamanya,” ungkapnya.

Di sisi lain, apabila ibu kota pindah, maka kemungkinan tidak ada lagi yang memantau dan mengendalikan Jakarta secara lebih ketat.

“Tapi saya juga tidak tahu apakah dengan pindah ibu kota itu otomatis Jakarta semakin sepi atau justru membuat Jakarta semakin ramai karena tidak ada yang memantau dan mengendalikan lagi secara lebih ketat,” kata Yayat. (NRY-harianindo.com)