Home > Ragam Berita > Seringkali Disamakan, Inilah Gambaran Ekonomi 1998 Dibanding 2015

Seringkali Disamakan, Inilah Gambaran Ekonomi 1998 Dibanding 2015

Jakarta – Pelemahan rupiah yang terus terjadi ini menandakan perekonomian Indonesia yang juga terus menurun. Beberapa pihak menilai bahwa jika kondisi ini tidak kunjung berubah, maka keadaan ekonomi Indonesia akan menjadi seperti krisis di 1998. Namun kenyataannya. kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih baik dari 1998 dulu.
Seringkali Disamakan, Inilah Gambaran Ekonomi 1998 Dibanding 2015
Data Bank Indonesia (BI), Senin (31/8/2015), menyebutkan bahwa sSecara fundamental, kondisi Indonesia saat ini lebih baik. Hal ini ditunjukkan oleh beberapa indikator perekonomian. Berikut perbedaannya:

  •  Pada tahun 1998 pertumbuhan ekonomi tumbuh negatif -13,13%, sementara tahun ini diperkirakan tumbuh positif 4,9%.
  •  Cadangan devisa di 1997/98 sekitar US$ 23 miliar, sedangkan sampai dengan Juli 2015 cadangan devisa Indonesia sebesar US$ 107,6 miliar.
  • Inflasi di 1998 mencapai 77,63%, sementara saat ini di 2014 mengarah pada inflasi yang rendah dan stabil yaitu 4% plus minus 1%.
  • Rasio Utang Luar Negeri pada tahun 1998 sekitar 120% dari PDB, sementara saat ini hanya sekitar 33% dari PDB.
  •  Dari sisi stabilitas sistem keuangan, di 1998 ketahanan permodalan bank cenderung kurang dan rasio kredit bermasalah relatif besar, sementara pada posisi Juni 2015, CAR (rasio kecukupan modal) perbankan sebesar 20,1% dan NPL (rasio kredit bermasalah) 2,6% (gross).

Pada keterangannya, BI mengatakan bahwa jumlah cadangan devisa per Juli 2015 sebesar US$ 107,6 miliar ini cukup membiayai 7,0 bulan impor atau 6,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah. Jumlah ini juga di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.


Baca juga
Presiden Jokowi Sudah Tahu Ekonomi Indonesia akan Melemah?
Agar Rupiah Tidak Semakin Jebol, Jokowi Terus Berikan Arahan Kepada Menteri Ekonomi

Selain cadangan devisa, Indonesia juga memiliki apa yang disebut dengan istilah ‘second lines of defense’ (pertahanan kedua) yang bisa digunakan berdasarkan tujuannya, antara lain:

  • Bilateral Swap Arrangement (BSA), yang merupakan dana cadangan apabila terjadi kondisi yang tidak diinginkan. BSA digunakan untuk mendukung likuiditas, mencegah krisis, dan menyelesaikan krisis. Dana tersebut antara lain dari Chiang Mai Initiative Multilateralization (CMIM) agreement (dengan Negara ASEAN, Jepang, China, dan Korea) sebesar US$ 240 miliar, dan Jepang sebesar US$ 22,76 miliar.
  • Indonesia juga memiliki Dana Siaga (deferred drawdown option/DDO) yang merupakan kerjasama antar negara yang digunakan untuk membantu pelaksanaan pembangunan. Jumlahnya US$ 5 miliar.
  • Indonesia memiliki Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) yang digunakan untuk meningkatkan kerjasama perdagangan bilateral dan memperkuat kerjasama keuangan antara kedua negara, serta mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan dolar AS. Saat ini BI telah memiliki BCSA dengan China dan Korea. Nilai kerja sama dengan Korea: KRW (won) 10,7 triliun atau Rp 115 triliun (ekuivalen US$ 10 miliar), sementara dengan Bank Sentral TiongkoChina (PBoC) adlaah CNY (yuan) 100 miliar atau setara Rp 175 triliun.

(Galang Kenzie Ramadhan – www.harianindo.com)

x

Check Also

Deklarasi Dukungan Kepada Ahok-Djarot Ditunda, PPP Kubu Romy Janji Jadwalkan Ulang Segera

Deklarasi Dukungan Kepada Ahok-Djarot Ditunda, PPP Kubu Romy Janji Jadwalkan Ulang Segera

Jakarta – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) DKI Jakarta kubu Romahurmuziy (Romi) ...

12465455_10205256660160520_652338149_o

Follow Kami Di Line @harianindo Friends Added

Portal Berita Indonesia

Saran dan Masukan Selalu Kami Tunggu Untuk Kami Membangun Portal Media Ini Agar Bisa Menjadi Lebih Baik Lagi. Hubungi Kami Jika Ada Saran, Keluhan atau Masukan Untuk Kami. Untuk Pemasangan Iklan Silahkan Kontak Kami di Page Pasang Iklan.

Aktual, Faktual dan Humanis