Home > Ragam Berita > Nasional > Ahok Geram Mendengar Ada Pungutan Liar Di TPU Petamburan

Ahok Geram Mendengar Ada Pungutan Liar Di TPU Petamburan

Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama memberikan ancaman pemecatan kepada Kepala Tempat Pemakaman Umum (TPU) Petamburan, Jakarta Barat. Ratna Dia Kurniati terkait temuan tim Ahok atas pungutan liar yang terjadi di TPU.

Ahok Geram Mendengar Ada Pungutan Liar Di TPU Petamburan

Namun Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Ratna Dia Kurniati telah memungkiri hal tersebut. Ahok pun menyodorkan bukti rekaman kepada Ratna.

“Saya sudah bilang berkali-kali ke Dinas Taman, tempat pemakaman umum itu masih banyak pungli. Dinas Taman bilang tidak ada, sampai saya sodorkan rekaman suara,” katanya di kantor Gubernur DKI Jakarta, Selasa (29/3/2016).

Menurut Ahok, terdapat “pihak dalam” yang turut bermain terkait kasus ini. Kasus pungutan liar kali ini juga bukanlah yang pertama kali terjadi. Ahok menyesalkan tindakan Ratna yang justru menyangkal adanya temuan timnya.

Ahok yang telah mengantongi bukti rekaman ihwal pungutan liar itu kemudian menyebutkan nominal pungutan liar bisa dipakai untuk mencicil mobil.

“Berapa nilainya, ya bisa buat cicil rumah BTN 3 bulan, mobil 2 bulan, ya dengar saja suaranya,” ujarnya.

“Kepala TPU kami minta ini diberhentikan sebagai PNS. Tunggu dia beresin dulu, nanti saya copot,” tegas Ahok. (Yayan – harianindo.com)

x

Check Also

Komentar Sukmawati Tentang Habib Rizieq : "Mulutnya Kasar dan Tidak Berakhlak"

Komentar Sukmawati Tentang Habib Rizieq : “Mulutnya Kasar dan Tidak Berakhlak”

Jakarta – Pimpinan Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab diminta untuk belajar dari Ketum ...

12465455_10205256660160520_652338149_o

Follow Kami Di Line @harianindo Friends Added

Portal Berita Indonesia

Saran dan Masukan Selalu Kami Tunggu Untuk Kami Membangun Portal Media Ini Agar Bisa Menjadi Lebih Baik Lagi. Hubungi Kami Jika Ada Saran, Keluhan atau Masukan Untuk Kami. Untuk Pemasangan Iklan Silahkan Kontak Kami di Page Pasang Iklan.

Aktual, Faktual dan Humanis