Home > Ragam Berita > Internasional > Surat Dari Warga Indonesia Di Jepang Ini Berikan Tamparan Untuk Yusron Ihza Mahendra

Surat Dari Warga Indonesia Di Jepang Ini Berikan Tamparan Untuk Yusron Ihza Mahendra

Gifu – Yusron Ihza Mahendra saat ini memang sedang menjadi bulan-bulanan para netizen terkait dengan kicauannya di Twitter yang dianggap sudah melontarkan kata-kata rasis dan tak seharusnya untuk mengomentari kinerja dari orang lain dan lebih baik untuk mengurusi sendiri tugasnya karena dirinya adalah seorang dubes di Jepang. Salah satu orang yang tampaknya cukup tertatrik adalah seoran WNI yang sedang merantau ke Gifu, Jepang, yang menuliskan sebuah surat dan begini isi suratnya, seperti yang dilansir islamnkari, Jumat (1/4/2016) :

Surat Dari Warga Indonesia Di Jepang Ini Berikan Tamparan Untuk Yusron Ihza Mahendra

Kepada Yth. Bapak Yusron Ihza Mahendra. Duta Besar Republik Indonesia untuk Jepang. Halo, Bapak Yusron Ihza Mahendra. Maaf ya bapak, saya tidak tahu apa gelar bapak. Tapi yang penting namanya kan sudah jelas. Mungkin bapak terkejut bila mendapati surat ini.

Namun, saya yakin surat ini akan mewakili seluruh keluh kesah kami, para rakyat Indonesia yang berada di Jepang khususnya, dan juga rakyat Jakarta pada umumnya.

Kemarin saya lihat lho, postingan di twitter bapak yang memberi nasehat untuk Pak Ahok. Ih keren ya Bapak Yusron ini, saya pikir. Bagaimana tidak keren coba, bapak kan tinggal di Jepang, tapi bisa menilai pak Ahok ini arogan. Berarti kan keren, tanpa harus ke Jakarta langsung melihat bagaimana cara Pak Ahok memerintah kota Jakarta, bapak sudah bisa tahu kalau Pak Ahok itu arogan.

Gara-gara berita di twitter yang jadi viral itu, saya jadi kepo tentang bapak, lho. Terus terang, saya tidak kenal siapa bapak. Maklum, sejak 2011 saya merantau ke Jepang. Eh, ternyata bapak itu duta besar Indonesia untuk jepang yang baru. Ya wajar sih kalau saya nggak tahu, wong tugas bapak sebagai duta besar Indonesia disini nggak pernah saya rasakan.

Bapak lho, tidak pernah mengunjungi saya di Gifu, tidak pernah tahu betapa kami harus bersusah payah kuliah siang dan malam, dan sebagian dari kami masih harus mengais sejumlah yen hanya sekedar untuk menopang hidup selama studi disini.

Bapak enak sih hidupnya bergelimang harga dan pelayanan. Tapi itu nggak jadi soal. Toh saya tidak tahu tentang bapak, padahal kita sama-sama tinggal dalam satu pulau.

Beda dengan bapak, yang tinggal beda negara pun mampu melihat sepak terjang Pak Ahok. Bahkan tahu tentang etnis-etnis Cina keturunan di Indonesia yang lari ke luar negeri pula. Keren sekali.

Saya lho pak, sampai tanya banyak saudara saya yang tinggal di Jakarta, kebetulan mereka bukan orang kaya dan bukan pejabat, jadi saya anggap suaranya sah. Iya dong, mereka tidak berkepentingan terhadap Jakarta dan tetek bengek-nya.
Karena yang mereka pikir hanya kerja, cari uang, dan hidup nyaman. Saudara-saudara saya puas dengan Pak Ahok.

Banyak sekali perubahan, terutama di sistem birokrasi. Lho Pak Yusron, kalau Pak Ahok arogan, setidaknya saudara-saudara saya pasti bakalan langsung pulang ke desa dong.

Bapak ini, tinggalnya di rumah mewah, temannya politikus semua sih. Jadinya nggak valid itu pasti informasinya. Turun dong tanya ke rakyat yang tidak berkepentingan. Ah si bapak, masa gitu aja saya harus ajarin?

Oh iya, tadi saya bilang kalau saya kepo ya? Gini pak, ternyata bapak itu adiknya Yusril Ihza Mahendra ya? Ah politikus, banyak bergaul dengan tikus. Jangan pak, nanti dibasmi sama pestisida lho. Yah, meskipun beberapa waktu lalu hampir dikurangi dosisnya, tapi justru karena Pak Ahok lah pestisida pembasmi tikus-tikus itu jadi makin banyak variasinya.

Eh, bapak paham nggak yang saya omongkan? Nggak ya? Belajar pertanian dulu sebentar pak, biar afdol jadi duta besarnya, biar banyak menguasai hal baru. Ah jadi ngelantur.

Jadi gini ya, bapak rupanya sama-sama dari Bangka Belitung dengan Pak Ahok. Yuh pak, mbok sesama teman sepermainan itu jangan berantem toh. Malu dong sama bule-bule, ditertawakan sama Om Donald Trump nanti. Masa tetangga kok beradu mulut. Inikah Indonesia, pak?

Hanya demi kepentingan pribadi, yang mana kakak bapak mau maju pilihan gubernur, lantas bapak tega menyerang Pak Ahok dengan isu ras?

Saya heran pak, Pak Jokowi yang lemah lembut, diserang. Pak Ahok yang tegas juga diserang. Bapak itu maunya seperti apa? Mbok ya leren saja pak.

Jangan racuni rakyatmu dengan kebencian. Mengapa kalian tidak beradu program yang membanggakan?

Ah Pak Yusron, mainlah ke Gifu pak. Saya ajak keliling mengunjungi rakyatmu. Sudah cukup saya pakai bahasa ndeso ya pak, takutnya bapak keblinger, tapi saya lebih kasihan dengan editor saya, pasti lelah meng-edit tulisan dengan banyak ejaan yang tidak baku. Maklum pak, rakyat bintang tiga.

Baiklah, saya akan memberi kalimat penutup dengan bahasa dan pembesaran huruf sehingga mudah dipahami oleh semua pihak, termasuk bapak.

“Cara berpolitik yang terkotor yang pernah saya ketahui adalah dengan menggunakan pengalaman traumatis akan ancaman genosida etnis! “

Salam Bhinneka Tunggal Ika…!!!

Dari sebutir rakyatmu di Gifu , Jepang, 30 Maret 2016

(Rini Masriyah – Harianindo.com)

x

Check Also

Ribut Soal Yerusalem, Israel Lancarkan Serangan Ke Hamas

Ribut Soal Yerusalem, Israel Lancarkan Serangan Ke Hamas

Gaza – Dikala dunia matanya teralihkan oleh pernyataan Donald Trump mengenai Yerusalem, pada Sabtu dini ...