Home > Ragam Berita > Nasional > Perjalanan Akhir Seorang Gembong Narkoba Freddy Budiman

Perjalanan Akhir Seorang Gembong Narkoba Freddy Budiman

Jakarta – Terpidana mati kasus narkoba, Freddy Budiman, menjadi salah seorang dari empat terpidana mati yang telah dieksekusi dihadapan regu tembak pada Jumat (29/7/2016) dinihari tadi.

Perjalanan Akhir Seorang Gembong Narkoba Freddy Budiman

Pria kelahiran Surabaya, 19 Juli 1976 ini adalah salah satu bandar narkoba besar di Indonesia yang mempunyai jaringan kelas internasional.

Freddy Byudima pertama kali ditangkap oleh aparat kepolisian pada 2009 karena kedapatan karena memiliki 500 gram sabu-sabu. Saat itu, Freddy divonis penjara 3 tahun dan 4 bulan.

Namun di dalam penjara tidak lantas membuat Freddy Budiman tidak berdaya, Freddy justru tetap menjalankan bisnis narkobanya dari dalan penjara dengan mendatangkan 1.412.476 butir ekstasi dari China pada Mei 2012.

Kasus ini kemudian yang menyebabkan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Barat menjatuhkan vonis hukuman mati kepada Freddy Budiman.

Pada 2013 lalu, Freddy Budiman kembali membuat heboh dengan penakuan seorang model majalah dewasa, Vanny Rossyane, yang mengaku seringkali berhubungan intim dengan Freddy di ruangan khusus yang telah disediakan di LP Cipinang. Kasus ini kemudian membuat Kalapas Cipinang, Thurman Hutapea, dicopot dari jabatannya.

Tidak hanya Vanny Rossyane, yang dikabarkan pernah berhubungan dengan Freddy Budiman, model seksi Anggita Sari juga mengaku bahwa dirinya dekat dengan Freddy Budiman.

Di dalam penjara pun Freddy Budiman masih bebas mengatur bisnis narkobanya dan berkomunikasi dengan jaringannya di luar, bahkan membuat pabrik narkoba.

Pada pukul 00.45 WIB dinihari tadi sepak terjang Freddy Budiman akhirnya berakhir di depan regu tembak bersama 3 terpidana mati lainnya. Jenasah Freddy kemudian dibawa ke Surabaya untuk dimakamkan di tempat kelahirannya, sesuai pesan terakhir Freddy sebelum dieksekusi.
(Samsul Arifin)

x

Check Also

JK Menilai Pidato "Pribumi" Anies Tak Diskriminatif

JK Menilai Pidato “Pribumi” Anies Tak Diskriminatif

Jakarta – Jika Presiden Jokowi enggan menanggapi perihal pidato Anies, berbeda dengan Wakil Presiden Jusuf ...