Jakarta – Pada 2017 silam, Pengadilan Negeri Bandung telah memvonis Buni Yani dengan hukuman 1,5 tahun. Tim kuasa hukum Buni Yani mencoba melakukan banding dan kasasi, akan tetapi keduanya ditolak.

Buni Yani : "Kalau Saya Bohong biarlah Allah Sekarang Juga Berikan Laknat dan Azab"

Usai pengajuan kasasinya ditolak oleh Mahkamah Agung (MA), Buni Yani mengatakan bahwa ia menerima bila memang putusan dari MA tersebut memang benar. Namun, ia meyakinkan bahwa dirinya tidak pernah memotong video pidato Ahok, seperti yang tertuang dalam dakwaan.

“Demi Allah saya tidak pernah mengedit dan memotong video. Demi Allah saya tidak pernah mengedit dan memotong video!” ujar Buni Yani pada konferensi pers di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (29/11/2018).

“Kalau saya bohong biarlah Allah sekarang juga memberikan laknat dan azab kepada saya, dan seterusnya ke anak cucu saya dan saya dimasukkan selama-lamanya ke neraka,” ujarnya menegaskan.

Buni Yani telah divonis selama 1,5 tahun karena telah melanggar UU ITE pasal 32 ayat 1, pada 2017 silam. Ia divonis bersalah lantaran telah mengedit dan meng-upload video pidato Ahok dengan menghilangkan kata ‘pakai’ dan dipotong menjadi berdurasi 30 detik. Buni menambahkan bahwa pasal tersebut hanyalah alasan dan dasar yang dipakai agar ia dijebloskan ke penjara.

“Pasal 32 ayat 1 tentang mengubah konten dukumen elektronik sesuai UU ITE betul-betul jahil dan biadab, bangsat. Itu menggunakan pasal itu semena-semena. Agar saya harus masuk penjara,” ujarnya.

Sedangkan, kuasa hukum Buni Yani, Syawaludin, mengatakan timnya akan terus mencoba jalan hukum lain setelah pengajuan kasasi ditolak MA. Namun langkah tersebut mungkin baru akan ditempuh setelah mendapatkan salinan putusan MA.

“Kami akan mendiskusikan kuasa hukum lain. Kita akan melakukan kuasa hukum luar biasa. Itu akan kami sikapi setelah kami terima salinan putusan dari MA. Tapi kami akan terus berjuang,” ujar Syawaludin.

(Tita Yanuantari – harianindo.com)