Jakarta – Mengenai pernyataan Prabowo yang mengajak pendukungnya untuk berlebaran 17 April mendatang akhirnya dikomentari oleh pihak PBNU. Mereka menilai pernyataan Capres Prabowo Subianto berlebihan dan berlawanan dengan semangat awal pesta demokrasi.

Wasekjen PBNU : Prabowo Lebaran Pakai Ketupat, warga NU Lebaran Idul Fitri"

Saat ditemui kemarin Jumat, Masduki Baidlowi selaku Wasekjen PBNU menuturkan bahwa “Saya kira pernyataan (Prabowo) hiperbolis, yang tidak perlu untuk dilebih-lebihkan bahkan jangan dijadikan 17 april sesuatu yang menghebohkan, jgn mengandung kekhawatiran ketakutan. kalau itu terjadi kontra produktif semangat awal pesta demokrasi, nasbul imamah adalah memilih pemimpin itu wajib, makanya tidak boleh golput kecuali ada alasan yang kuat,”

“Kalau Pak Prabowo lebaran pakai ketupat maka warga NU tidak lebaran ketupat, tapi lebih besar lagi, lebaran idul fitri,” canda Masduki.

Menurut dia, pemilu 2019 merupakan ajang memilih pemimpin yang hukumnya wajib bagi umat muslim. Sehingga tidak tepat bila dianggap sebagai lebaran.

“Karena memilih pemipin wajib karena pemimpin didalam kitab fiqih, tugas utama pemimpin ialah berupayakan kesejahteraan, ciri-ciri pemipin apa? Jujur, pemimpin yang sederhana, beriman kepada Allah, ditandai salat 5 waktu, salat jumat dan berpuasa. Pemimpin miliki kemampuan sifat dikenal dalam ciri umum kepemimpinan karena 17 April itu adalah hari sangat penting, mungkin ya dimaksud Pak Prabowo bukan lebaran tidak tepat tapi hari hal penting bagi umat islam untuk memilih pemimpin yang benar,” kata dia.

(Ikhsan Djuhandar – harianindo.com)