Semarang – Ada yang tak biasa dari tradisi Syawalan di Kampung Jaten Cilik, Pedurungan Tengah, Kota Semarang. Belum genap matahari terbit, anak-anak sudah mulai datang berebut Kupat Jembut yang acapkali juga diselipi uang.

Kupat Jembut merupakan makanan khas Jaten Cilik berupa ketupat yang berisi tauge sambal kelapa. Tak hanya itu, terkadang warga sekitar juga mengisi ketupat dengan uang logam.

Jika merunut sejarahnya, tradisi bagi-bagi ketupat sudah muncul sejak dekade 50-an. Berdasarkan penuturan Munawir (45), salah satu tokoh masyarakat, tradisi tersebut diinisiasi oleh warga Jaten Cilik yang mengungsi akibat Perang Dunia Kedua.

Warga yang kala itu sedang kesusahan namun masih ingin merayakan Hari Raya Idulfitri kemudian mendapat siasat. Selama sepekan digelar syukuran Syawalan dengan berbagi ketupat tanpa opor.

“Itu simbol kesederhanaan. Jadi adanya cuma tauge, kelapa, dan lombok, jadi isinya ya tauge sama sambal kelapa. Jadi menyampaikan Lebaran Cilik (Syawalan) ini tidak harus dengan opor,” terang Munawir.

Tradisi ini dilakukan oleh orang dewasa dan dibagi-bagikan kepada anak-anak.

Di Kampung Jaten Cilik sendiri, masyarakat lebih terbiasa menyebut Kupat Tauge daripada Kupat Jembut. Hal ini dikarenakan nama Kupat Tauge terdengar lebih nyaman bagi masyarakat Jaten Cilik yang berkarakter relijius.

“Karena kampung ini relijius, namanya nyebutnya Kupat Tauge. Tapi sebutannya macam-macam,” ucapnya. (Elhas-harianindo.com)