Jakarta – Kehidupan manusia modern saat ini tidak bisa terlepaskan dari benda kecil bernama smartphone. Diakrenakan kebiasaan menatap gadjet, memberikan damapak pada perubahan struktur tengkorak generasi saat ini.

Perubahan struktur dapat dilihat dari tojolan yang dinamakan external occipital protuberance (ECP). Pada beberapa orang, tonjolan ini cukup besar hingga bisa diraba dengan jari di pangkal tulang tengkorak.

“Saya jadi dokter sudah 20 tahun, dan baru dalam dekade terakhir, berangsur-angsur, saya menemukan pasien saya memiliki tulang tersebut di tengkoraknya,” kata peneliti dari University of The Sunshine Coast, David Shahar.

Penyebabnya belum bisa dipastikan, namun kecurigaan berujung pada kebiasaan menatap layar gadget. Dikarenakan posisi yang menunduk saat menatap gadjet memberikan beban berlebih pada tulang belakang.

Kepala manusia memiliki bobot rata-rata 4,5 kg, dan akan terasa makin berat saat menunduk dengan posisi yang tidak pas. Biasanya terjadi saat menatap layar ponsel. Para pakar kesehatan mengenal ‘text neck’ sebagai masalah kesehatan yang ditimbulkannya.
Tekanan yang terjadi, disebut berpengaruh pada pertumbuhan otot di area tersebut. Otot-otot yang lebih besar membutuhkan tulang yang lebih besar pula untuk melekat, dan akhirnya muncul tonjolan yang makin besar pada tulang tengkorak tersebut.

Dipublikasikan di Journal of Anatomy, Shahar dan tim mengamati 218 hasil radiografi pasien muda berusia 18-30 tahun. Tonjolan normal memiliki ukuran 5 mm, dan yang membesar berukuran rata-rata 10 mm.

Sebanyak 41 persen memiliki tonjolan yang membesar, dan 10 persen di antaranya mencapai ukuran 20 mm. Tonjolan yang membesar lebih banyak ditemukan pada laki-laki dan yang terbesar mencapai ukuran 35,7 mm.

Tidak perlu dikhawatirkan , pasalnya tonjolan di tulang tengkorak ini jarang memicu masalah kesehatan. Hanya saja, temuan ini memberikan pelajaran bahwa menjaga postur tubuh saat menggunakan gadjet itu penting. (Hari-harianindo.com)