Jakarta – Pada hari kedua uji coba perluasan kawasan ganjil genap di DKI Jakarta, mulai muncul sejumlah keluhan dari masyarakat. Selain lebih merepotkan para sopir dan ojek daring, kebijakan ganjil genap juga menyebabkan sejumlah jalur alternatif menjadi macet.

Hal tersebut diungkapkan oleh Bramono, seorang sopir taksi online. Semenjak kebijakan ganjil genap diberlakukan, penghasilannya dari angkutan daring mengalami penurunan. Selain itu, ia mengalami kesulitan dalam mendapat pesanan lantaran jarak yang lebih jauh.

“Gara-gara sistem ini, pendapatan berkurang. Mana harus ambil (order) yang jauh-jauh,” ucap Bramono di Pondok Indah, Selasa (13/08/2019).

Tak hanya itu, sejumlah jalur alternatif menjadi penuh sesak dengan kendaraan yang menghindari jalur ganjil genap. Kepadatan jalan semakin parah ketika memasuki jam pulang kerja.

Baca Juga: Protes Ganjil Genap, Angkutan Online Bakal Geruduk Kantor Anies

Selain Bramono, Irfandy juga mengaku terdampak dengan kebijakan ganjil genap. Karyawan swasta tersebut harus menyiasati jalanan macet dengan berangkat lebih pagi daripada sebelumnya.

“Iya pagi jam masuk kantor macet. Pulang kantor juga makin parah macetnya. Ini gara-gara di Fatmawati ada ganjil genap,” kata Irfandy.

Dikabarkan sebelumnya bahwa uji coba perluasan sistem ganjil genap diperluas menjadi 16 ruas. Adapun ruas jalan yang diberlakukan uji coba sistem ganjil genap antara lain Jalan Pintu Besar Selatan, Jalan Gajah Mada, Jalan Hayam Wuruk, Jalan Majapahit, Jalan Sisingamangaraja, Jalan Panglima Polim, Jalan RS Fatmawati, Jalan Suryopranoto, Jalan Balikpapan, Jalan Kyai Caringin, Jalan Tomang Raya, Jalan Pramuka, Jalan Salemba Raya, Jalan Kramat Raya, Jalan Senen Raya, dan Jalan Gunung Sahari.

Sistem tersebut berlaku pada hari Senin-Jumat pada pukul 06.00-10.00 WIB dan pukul 16.00-21.00 WIB. Uji coba tersebut dimulai dari 12 Agustus hingga 6 September 2019. Sementara tilang mulai diberlakukan pada 9 September 2019. (Elhas-harianindo.com)