Phnom Penh – Bagi sebagian orang, tikus adalah hewan yang menjijikkan. Mereka dikenal sebagai hewan pengerat yang hidup di tempat-tempat yang kotor. Selain itu, mereka juga hewan pembawa penyakit seperti pes hingga leptospirosis. Tak heran apabila banyak orang yang lebih memilih untuk menghindari hewan satu ini.

Akan tetapi, masyakarat Kamboja memandang tikus sebagai sesuatu yang berbeda. Alih-alih jijik, orang Kamboja justru gemar menyantap daging tikus sebagai kudapan mereka.

Meski demikian, tak sembarang tikus yang dijadikan sebagai bahan pangan orang-orang Kamboja. Mereka memilih tikus liar yang hidup di sawah daripada tikus kota.

Menurut Chhoeun Chhim, seorang pemburu tikus, tikus sawah lebih sehat sedangkan tikus kota mengandung banyak penyakit. Sebab, tikus liar hanya mengonsumsi akar dan benih padi.

“Tikus liar sangatlah berbeda (dibanding tikus kota). Makanan mereka pun berbeda,” ujar Chhoein Chhim, seperti yang dilansir BBC.

Soal rasa, Chhim mengaku bahwa daging tikus memiliki cita rasa seperti daging babi. Meski demikian, ia hanya menjual daging tikus dan lebih memilih untuk memakan daging ikan.

“Kami menjual tikus dan uangnya digunakan untuk membeli ikan,” kata Chhim.

Soal harga, daging tikus bakar dibanderol dengan harga yang cukup murah. Untuk tikus bakar berukuran besar, pedagang biasanya mematok harga Rp 17.000. (Elhas-harianindo.com)