Istanbul- Presiden Rusia Vladimir Putin menghimbau perdamaian di Yaman dengan mengutip ayat suci Alquran tepatnya surat Ali Imran ayat 103.

“Dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika mau dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya, kamu menjadi saudara,” ungkap Putin di Ankara pada Senin (16/09).

Pernyataan tersebut dinyatakan oleh Putin dalam pernyataan bersama dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Iran Hassan Rouhani setelah menggelar pertemuan tinggi.

Dikutip kantor berita RT, Putin telah meminta pendapat dan persetujuan dari Erdogan dan Rouhani sebelum mengutip ayat suci Alquran tersebut.

Selain mengutip surat Ali Imran, Putin juga menyinggung ajaran Islam lain terkait bagaimana tindak kekerasan hanya diperbolehkan untuk membela diri sendiri.

Ketiga pemimpin turut memberikan peringatan terhadap operasi militer koalisi Arab Saudi di Yaman sejak perang sipil melanda negara tersebut pada 2015 lalu.

Perang sipil Yaman yang telah terjadi sejak 2015 lalu dinilai secara luas sebagai perang proxy antara Saudi dan Iran, dua kekuatan besar di Timur Tengah. Saudi selama ini membantu pemerintah Yaman untuk memberantas Houthi yang diduga disokong Iran.

Menurut kelompok kemanusiaan, hingga hari ini konflik sipil di Yaman telah menyebabkan ribuan jiwa melayang. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahkan menilai bahwa konflik yang telah berjalan selama empat tahun ini sebagai krisis kemanusiaan terburuk sepanjang sejarah.

Selain membicarakan situasi di Yaman, Putin, Rouhani, dan Erdogan turut mengkaji situasi di Suriah, terutama ketegangan yang terjadi di wilayah Idlib.

Pertemuan tinggi ketiga pemimpin itu diselenggarakan untuk menemukan solusi gencatan senjata abadi di Suriah menyusul baku tembak antara pasukan Suriah dan pemberontak yang didukung Turki di Deir Ezzor. Serangan tersebut berakibat pada salah satu dari 12 pos pengamatan militer milik tentara Turki hancur.

“Kita berada dalam periode ketika kita perlu mengambil banyak tanggung jawab untuk perdamaian di Suriah, ketika kami (Turki, Iran, Rusia) perlu memikul beban lebih,” ungkap Erdogan.

Dikutip Reuters, Erdogan menjelaskan ia, Putin, dan Rouhani setuju bahwa solusi politik dibutuhkan demi mengakhiri krisis di Suriah.

Kendati begitu, ketiga pemimpin masih belum satu suara terkait penyebab konflik yang terjadi di Suriah. Erdogan menilai bahwa ancaman utama di Suriah saat ini datang dari kelompok pemberontak Kurdi yang selama ini dianggap Turki teroris.

Sementara itu, Putin masih menganggap ancaman utama saat ini masih terkait sel-sel tidur ISIS.

Di sisi lain, Rouhani menganggap diplomasi merupakan satu-satunya solusi untuk menyelesaikan krisis di Suriah. Ia juga menghimbau terhadap Amerika Serikat untuk menarik pasukan dari timur laut Suriah.

“Diplomasi dan bukan konfrontasi (militer) bisa mengamankan perdamaian di Suriah,” kata Rouhani. (Hr-harianindo.com)