California – Rencana Facebook untuk melengkapi layanan Facebook Mesengger dan Instagram dengan teknologi enkripsi end to end ditentang oleh pemerintah di sejumlah negara. Amerika Serikat, Inggris, dan Australia mengirimkan surat kepada Facebook agar rencana tersebut diurungkan.

Aparat keamanan memandang bahwa teknologi penyandian justru membuat pelaku kejahatan lebih bebas dalam melancarkan aksinya lantaran polisi tak mampu mendapat akses komunikasi para penjahat. Untuk itu, aparat meminta agar Facebook memberikan akses backdoor untuk mereka sebagai sarana bagi mereka untuk menyadap penjahat.

Hal tersebut rupanya mendapat tanggapan dari pendiri Facebook, Mark Zuckerberg. Dia lah yang memiliki niatan untuk melengkapi kedua layanan tersebut dengan teknologi penyandian seperti yang sudah disematkan di WhatsApp.

Zuckerberg paham betul bahwa penyandian di Facebook bisa membuat praktik kejahatan seperti eksploitasi anak bisa menjamur. Akan tetapi, pembatalan teknologi enkripsi bukanlah solusi untuk menangani kejahatan tersebut.

“Ketika kami memutuskan apakah akan meneruskan penyandian end to end ke seluruh aplikasi berbeda, hal inilah yang paling berat bagi saya,” kata Zuckerberg, dikutip dari Reuters.

Ia menyadari bahwa teknologi penyandian akan mempersulit polisi dalam mengusut kasus kejahatan eksploitasi anak. Akan tetapi, Zuckerberg percaya bahwa Facebook mampu mengidentifikasi predator seks tanpa menghapus teknologi penyandian.

Dengan kata lain, Facebook tak mau memberikan akses pintu belakang kepada aparat maupun pemerintah dan teknologi enkripsi akan tetap dipasang di sejumlah layanan pesan mereka.

“Kami melawan upaya pemerintah untuk membuat backdoor karena akan mengganggu privasi dan keamanan orang,” ujar pihak Facebook sebelumnya. (Elhas-www.harianindo.com)