Jakarta – Belum pastinya Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto untuk maju di Pilpres 2019 mendatang dinilai oleh banyak pihak karena ada sejumlah faktor penting yang menjadi pertimbangan.

Pengamat Politik Sebut Lawan Jokowi Bukan Lagi Prabowo

Bahkan menurut peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsuddin Haris, lawan Jokowi diPilpres 2019 bukan lagi Prabowo.

“Prabowo menjadi calon presiden tinggal 50 persen,” ujar Syamsuddin saat Diskusi Publik bertema “Presidential Race: Siapa Lawan Tanding Jokowi” di kantor PARA Syndicate, Jakarta, Jumat (6/7/2018).

Salah satu faktor yang menjadi masalah adalah biaya pencapresan yang sangat besar. Itu sebabnya, Prabowo sampai harus melakukan penggalangan dana melalui akun Facebooknya pada Kamis (21/6/2018) malam.

“Ini bukan masalah yang sederhana, sepele, ini masalah yang luar biasa, sebab dana pencapresan lebih dari Rp 1 triliun lah,” kata Syamsuddin.

Selain itu, masalah rumit lainnya yang dihadapi Prabowo adalah soal pembentukan koalisi dan persaingan antara partai koalisi.
“Kita tahu PKS menawarkan 9 calon cawapres, kemudian ketua umum PAN Zulkifli Hasan, lalu penjajakan yang tidak kenal putus dari Cikeas Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dipasangkan dengan pak JK (Jusuf Kalla), Anies Baswedan, dan Prabowo Subianto,” ujarnya.

Pembentukan partai koalisi yang hanya berdasarkan kepentingan jangka panjang, tidak berdasarkan kesamaan ideologi, menurut Syamsuddin juga tidak akan kuat.

“Sebab basis koalisi ini semata-mata kepentingan politik jangka pendek, tidak ideologis basisnya,” katanya.

“Selama basis koalisi tidak ideologis, ya mudah satu masuk lain keluar. Kemudian bentuk koalisi lain, satu masuk lainnya keluar selamanya akan demikian,” imbuhnya.

Hal ini menurut Syamsuddin juga terjadi di kubu Jokowi.

“Ketika salah satu partai politik kecewa tidak diajak menjadi calon wakil presiden, potensi meninggalkan Jokowi masih tetap ada. Kenapa? Karena tidak ada pengikatnya,” ucap Syamsuddin.

“Yang main dua kaki saja didiamin sama Jokowi dengan kasus PAN yang main sana, main sini tetap didiamin oleh Pak Jokowi sehingga demikian memang koalisisnya bersifat fluids ya cair ini,” tambahnya.
(samsul arifin – harianindo.com)