Naypyidaw – Pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi berjanji meningkatkan transparansi kinerja pemerintah dalam menngani krisis etnis minoritas Rohingya. Selama ini, Suu Kyi dinilai komunitas global cenderung diam terhadap segala sesuatu mengenai Rohingya.

Suu Kyi Tegaskan Bakal Tingkatkan Transparasi Kinerja Pemerintah soal Rohingya

Suu Kyi

Reputasi Suu Kyi, wanita yang pernah dikenal sebagai tokoh penegak hak asasi manusia, merosot tajam. Ia dinilai gagal merespons operasi militer negaranya di Rakhine yang diduga telah menewaskan banyak Rohingya.

“Saya siap mengakui bahwa kami memiliki berbagai tantangan, terutama soal Rakhine dan perdamaian,” ucap Suu Kyi dalam sebuah pidato di hadapan sejumlah pebisnis asal Jepang. Rakhine adalah negara bagian yang sebagian besar dihuni Rohingya.

“Kami tidak mau menyembunyikan fakta ini dari sahabat kami,” lanjut dia sebagaimana diberitakan AFP pada Senin (8/10/2018).

Menjelang pertemuan regional di Tokyo, Suu Kyi mengaku sadar bahwa perdamaian dan stabilitas di Myanmar penting untuk menarik investor asing.

“Kami menyadari bahwa perdamaian, rekonsiliasi, harmoni, stabilitas, aturan hukum, hak asasi manusia — semua hal ini harus dipertimbangkan jika kami ingin mengundang banyak investor dan untuk menciptakan lebih banyak kesempatan ekonomi,” ungkap Suu Kyi.

“Kami ingin sangat terbuka dan transparan kepada sahabat-sahabat kami. Jika Anda semua punya kekhawatiran, jangan khawatir, silakan diskusikan dengan kami,” tambah dia.

Baca juga: Badai Michael Diprediksi Menerjang Kawasan di Pantai Teluk AS

Operasi militer Myanmar tahun lalu telah menewaskan banyak Rohingya di Rakhine dan membuat lebih dari 700 ribu lainnya melarikan diri ke Bangladesh. Myanmar membantah berusaha “membersihkan etnis” Rohingya, dan menegaskan hanya memburu grup ekstremis ARSA.

Sejumlah pejabat Myanmar mengatakan langkah Suu Kyi terbatas karena militer masih berpengaruh besar di pemerintahan. (Tita Yanuantari – harianindo.com)