Jakarta- Sekretaris Umum Front Pembela Islam Munarman bungkam perihal perkembangan politik Jokowi bertemu Prabowo. Munarman menyatakan bahwa pihaknya tidak memiliki kewenangan untuk berkomentar terkait pertemuan kedua tokoh di Moda Raya Transportasi atau MRT itu. “Kami tidak pada kompetensi untuk mengomentari hal tersebut,” kata Munarman dihubungi Sabtu malam, 13 Juli 2019.

Walau demikian, kata dia, perjuangan terkait keadilan akan tetap selalu diperjuangkan oleh para pendukung Prabowo. Menurutnya umat juga menolak cara curang dan kotor dalam kehidupan bernegara.

Berbeda dengan FPI, Persaudaraan Alumni 212 menyatakan secara tegas tidak setuju dengan upaya rekonsiliasi Jokowi-Prabowo. Juru bicara PA 212 Novel Bamukmin menyatakan bahwa pihaknya tidak ikut campur dalam pertemuan itu. Menurut dia, sejak putusan Mahkamah Konstitusi dalam sengketa pilpres, PA 212 tidak lagi membuka pembicaraan dengan Prabowo.

Ia menuding Prabowo lebih mendengar orang sekitarnya yang dituduh Novel Bamukmin sebagai pengkhianat. Novel berujar PA 212 segera menggelar Ijtima Ulama 4 untuk menentukan sikap terkait pertemuan tersebut.

Ketua Gerakan Nasional Pembela Fatwa Ulama Yusuf Martak belum menentukan sikap terakit pertemuan Prabowo-Jokowi. Kelompok yang keras mendukung Prabowo saat Pemilihan Presiden 2019 ini menyatakan akan membahas sikap pada Ijtima Ulama ke-4. “Insya Allah benar. Tidak khusus untuk membahas itu saja (pertemuan Jokowi-Prabowo), banyak hal lain yang harus dibahas,” kata Yusuf Martak saat dihubungi, Ahad, 24 Juli 2019.

Yusuf beranggapan bahwa pertemuan antara Prabowo dan Jokowi sebagai fenomena wajar dalam perpolitikan. Menurut Yusuf dia sudah bisa memperkirakan pertemuan ini sejak lama. Yusuf mengaku tak pernah membatasi atau ingin ikut campur dalam pertemuan itu. Dia membebaskan Prabowo untuk mengambil tindakan. “Kami santai saja, tidak ada tanggapan yang serius,” kata dia. (Hari-harianindo.com)