Palembang – Presiden Mahasiswa Universitas Sriwijaya, Nikmatul Hakiki Vebriawan, membeberkan sebuah fakta yang menghebohkan. Usai berunjuk rasa di depan gedung DPRD Sumatera Selatan, Selasa, 24 September 2019, Nikmatul mengaku nyaris akan diculik oleh seseorang yang tidak ia kenal.

Percobaan penculikan tersebut diungkapkan oelh Nikmatul terjadi pada Kamis siang, 26 September 2019. Peristiwa ini berlangsung di area kampus Universitas Sriwijaya di kawasan Bukit Palembang.

Dia mengklaim bahwa upaya dugaan penculikan tersebut berawal saat dia didatangi oleh seseorang yang menanyakan namanya. Tanpa curiga, Nikmatul menjawab dan memberitahu namanya dengan santai.

Namun setelah itu, datang lagi kedua orang teman dari orang berpakaian bebas tersebut. Mereka berupaya untuk memegang tangan Nikmatul dari belakang.

“Ketika itu saya lagi bersama dua teman saya. Saya lihat mereka ingin pegang tangan saya dari belakang. Saya berusaha melawan dan dilerai dua rekan yang sedang bersama saya,” ungkap Nikmatul.

Menurut Nikmatul, pada saat kejadian, banyak saksi yang melihat. Tak hanya mahasiswa di area kampus, namun juga masyarakat yang melintas, lantaran saat kejadian dia berada di depan gerbang kampus yang merupakan kawasan halte bus.

Dia menduga, percobaan penculikan ini berawal dari cekcoknya dengan seseorang di media sosial, saat menanggapi video yang menyatakan aksi di depan gedung DPRD berlangsung aman dan damai. Padahal, aksi terssebut berujung dengan kerusuhan yang menyebabkan puluhan orang mengalami luka-luka.

“Saya terus menanyakan, jika permasalahan statement saya di media sosial itu, harus ada pembahasan bersama. Jangan saya diciduk dan ingin dibawa seperti ini,” katanya.

Nikmatul segera menyampaikan laporan pada posko pengaduan masyarakat korban kekerasan aparat yang diinisiasi Walhi, LBH Palembang, dan jaringan advokasi Palembang lainnya.

“Aliansi mahasiswa Sumatera Selatan mencatat, korban atas aksi tersebut telah mengakibatkan 60 mahasiswa terluka. Korban lebih banyak mengalami luka akibat pemukulan di bagian kepala, dan punggung,” ujar Nikmatul.

Saat menggelar aksi unjuk rasa di depan gedung DPRD Sumatera Selatan, ribuan mahasiswa menyampaikan aspirasi terkait penolakan pengesahan revisi Undang-Undang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

Dalam aksi tersebut, mahasiswa juga menyerukan terkait penolakan terhadap revisi Undang-undang KPK yang sudah disahkan DPR RI, RUU Ketenagakerjaan, dan RUU Pertanian. (Hr-harianindo.com)