Jakarta – Beredar luasnya kabar hoaks tentang konflik Papua Barat tidak hanya tersebar melalui Facebook. Berita tersebut juga menyebar luas melalui iklan di jejaring sosial s Facebook ads.

Terdapat akun hingga grup Facebook yang dihapus lantaran menunjukkan “perilaku tidak autentik yang terkoordinasi” yang ditujukan untuk menyesatkan pengguna media sosial. Terdapat 443 akun, 200 halaman, dan 76 grup Facebook, serta 125 akun Instagram, telah dihapus.

Akun-akun yang telah ditutup tersebut diduga sebagai penyebar informasi bohong saat gelombang aksi demokratis menentang rasisme serta menuntut hak menentukan nasib sendiri di Papua, ada yang berujung kerusuhan.

“Meskipun orang-orang di balik kegiatan ini berusaha menyembunyikan identitas mereka, penyelidikan kami menemukan tautan ke sebuah perusahaan media Indonesia InsightID,” ujar pihak Facebook.

Ditemukan pula pembayaran dalam mata uang rupiah Indonesia sebesar USD 300 ribu atau setara Rp 4,2 miliar untuk iklan Facebook. Seperti diketahui bahwa, selama Pemilu 2019, Presiden Jokowi menjadi sasaran disinformasi di media sosial

“Dalam setiap kasus ini, orang-orang di balik kegiatan ini berkoordinasi satu sama lain dan menggunakan akun palsu untuk menutupi identitasnya,” kata pihak Facebook. (NRY-harianindo.com)