Jakarta – Anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD), Suherman dkk melakukan penyerangan terhadap aparat kepolisian di daerah pantura. Dua di antaranya mengalami luka temabak dan salah seorang meregang nyawa. Suherman yang memiliki nama alias Herman alias Eman alias Abu Zahra pun akhirnya dijatuhi hukuman mati.

Berikut adalah rangkuman kronologi aksi Suherman, Senin (14/10/2019):

11 Juni 2018

Penyerangan dilakukan oleh Suherman dengan tujuh orang lainnya di Jalan Pantura, Desa Grinting, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, Jateng. Di lokasi tersebut, anggota Polsek Bulakamba menjadi korban.

20 Agustus 2018

Gerombolan tersebut pun melakukan penyerangan terhadap Personel Sabhara Polsek Cirebon Kota, Brigadir Angga. Suherman dkk bahkan melakukan rampasan senjata api (senpi) milik Angga. Selain itu, Angga mengalami luka berat pasca insiden penyerangan tersebut.

“Untuk Angga karena luka berat masih dirawat. Pergelangan tangannya masih ada luka menganga dan patah tulang,” ujar Kabid Humas Polda Jawa Barat Kombes Trunoyudo Wisnu Andiko.

24 September 2018

Gerombolan tersebut melakukan penyerangan terhadap dua anggota PJR yakni Ipda Dodon dan Aiptu Widi. uherman dkk menembak keduanya. Aiptu Dodon pun turut meregang nyawa.

“Ada tujuh luka tembak yang ditemukan di tubuh anak saya. Tembakan ada di bagian dada, mulut, bahu kanan, dan tembakan tujuh itu ke punggung. Katanya pertama kali itu (tembakan) kena mulutnya (Dodon). Setelah mulut, di dada, bahu kanan, dan punggung,” ungkap ayah Dodon, Saeful M Kardila.

3 September 2018

Densus 88 Antiteror kemudian melakukan pengejaran dan mereka ditemukan di salah satu tampat persembunyiannya di Tegal, Jawa Tengah. Polisi terpaksa mengeluarkan tembakan mati terhadap dua anggota JAD itu lantaran melakukan perlawanan. Suherman akhirnya disertet ke meja hijau untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

25 September 2019

Suherman dituntut oleh jaksa dengan hukuman mati.

9 Oktober 2019

Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim) menerima permohonan jaksa. Suherman dinyatakan “dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa atau harta benda orang lain, atau untuk mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis, atau lingkungan hidup, atau fasilitas publik, atau fasilitas internasional”.

“Menjatuhkan pidana mati,” demikian putus PN Jaktim sebagaimana dikutip dari website Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) PN Jaktim. (Hr-harianindo.com)